Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 31-12-2025
  • 516 Kali

Refleksi Tahun Baru dalam Perspektif Lintas Generasi

Media Center, Rabu (31/12) Tahun Baru merupakan peristiwa yang lumrah dan terjadi secara konsisten. Sebuah kebiasaan alam yang menandakan perubahan zaman sekaligus bertambahnya usia.

Meski begitu, tahun baru juga mengundang kontroversi, khususnya dalam hal merayakannya. Terutama dalam hal ini tahun baru Masehi, penanggalan universal yang kini dipakai secara umum di dunia.

Persepsi sekaligus perspektif tiap orang beragam. Baik dari sudut pandang tradisi, budaya, sejarah, hingga agama. Meski begitu, karena sifatnya wacana, aneka ragam pendapat tentang menyambut sekaligus merayakan tahun baru hanya timbul-tenggelam seperti sepotong kayu yang diterpa gelombang musiman.

"Terlepas dari akar sejarahnya, tahun Masehi sudah menjadi milik warga sedunia. Mulai dari kalender yang dipajang di rumah-rumah, lembaga, pemerintahan, hingga di perangkat komputer, laptop, hape, dan lainnya. Itu menggunakan kalender Masehi," kata Nurul Hidayat, seorang pendidik di Sumenep, Rabu (31/12/2025).

Hal itu, lanjut Nurul tidak bisa dihindari, karena sudah menjadi kesepakatan umum sebagai kalender dunia. Sehingga tidak relevan lagi misalnya dikait-kaitkan dengan agama atau kepercayaan tertentu.

"Sudah menjadi bagian dari sistem kehidupan di dunia, meliputi semua agama, suku, dan antar bangsa," tambahnya.

Meski begitu, Nurul juga tidak sepakat jika dalam hal merayakan tahun baru dengan cara berlebihan, apalagi diiringi dengan kebiasaan-kebiasaan yang tidak baik.

"Jadikan momentum instrospeksi diri, yang direfleksikan dengan memperbaiki hal-hal yang kurang di tahun sebelumnya pada tahun selanjutnya," pesannya.

Sementara Cak Saleh, mantan aktivis di Sumenep mengajak generasi agar lebih arif menyambut tahun baru. Seperti menambah doa khusus di menjelang awal tahun untuk keselamatan bangsa.

"Boleh-boleh saja dengan diselingi acara berbagi rezeki, traktiran, tapi dengan cara yang bijak. Intinya dengan niat saling mendoakan khususnya bangsa Indonesia ke depannya," urainya.

Bagi kalangan generasi muda saat ini, khususnya di Sumenep, tahun baru juga disikapi beragam. Ada yang merayakan dan ada juga yang tidak. Bahkan ada juga yang apatis.

"Kalau di keluarga kita sendiri biasa saja menjelang pergantian tahun, tidak ada kebiasaan tertentu. Kadang dijadikan sebagai ajang berkumpulnya keluarga maupun teman-teman. Ada yang menggelar acara makan-makan seperti bakar ikan dan lain-lain. Tapi kadang di tahun selanjutnya tidak ada acara khusus," kata Lubna, seorang pelajar di Sumenep.

Meski begitu, kata siswi kelas XI ini, biasanya selalu ada refleksi berupa nasihat dari kedua orang tuanya tentang makna peralihan tahun.

"Biasa ayah dan ibu itu mengingatkan pada jelang awal tahun agar dibiasakan melakukan kegiatan positif, seperti lebih banyak mengaji dan berdoa yang baik-baik. Ya, tidak hanya tahun baru Masehi, tapi terlebih lagi di tahun baru Hijriah," jelas Lubna.

Sementara Redi, seorang mahasiswa di Sumenep mengaku memiliki pandangan sendiri terhadap perayaan tahun baru. Menurutnya, tahun baru tidak perlu dirayakan secara khusus, karena bukan merupakan hari yang istimewa.

"Tahun baru sama seperti hari atau tanggal-tanggal lainnya di dua belas bulan selama setahun. Bukan hari yang istimewa. Bahkan setiap hari bisa menjadi tahun baru. Karena di sana adalah kesempatan baru bagi kita untuk berbenah diri," jelasnya dengan gaya aktivisnya.

Dari sudut pandang umum, perayaan tahun baru juga dimaknai sebagai simbol keterbukaan, yang dalam hal ini tradisi maupun budaya yang berbeda-beda.

"Terlebih lagi Sumenep yang dikenal sebagai wilayah yang cukup terbuka dan toleran terhadap budaya-budaya luar atau asing. Namun tentunya tetap harus menjaga identitas aslinya agar tidak tergerus akar budaya asalnya," kata Faiq NF, seorang pemerhati sejarah dan budaya di Sumenep.

(Em Farhan Em)