News Room, Rabu ( 15/04 ) Sebuah bangunan mirip Keraton Sumenep di Kelurahan Pajagalan, berdiri kokoh di Desa Lalangon Kecamatan Manding. Hanya saja, ‘replika’ keraton tersebut memiliki luas yang lebih kecil ketimbang keraton yang dibangun oleh Panembahan Natakusuma I atau Panembahan Sumala Asiruddin, Raja Sumenep yang memerintah sejak tahun 1762 hingga 1811 Masehi.
“Bangunan ini juga dibuat atas perintah Panembahan Sumala,”kata Drs. H. Kurniadi Wijaya, M.Si pemilik bangunan keraton ini tersebut pada News Room, Rabu (15/04). Ceritanya dimulai pada abad 18 silam.
Menurut H. Kurniadi, di sekitar tanah yang ditempati bangunan tersebut, dulu pernah bermukim seorang ulama besar di masanya, bernama Kiyai Baghdi. Oleh masyarakat umum, beliau terkenal dengan sebutan Kiyai Taposan.
“Dari segi nasab, beliau merupakan keturunan atau cucu dari Kiyai Khathib Rajil, salah seorang putra Pangeran Katandur atau Sayyid Ahmad Baidhawi,”tambahnya.
Kiyai Khathib Rajil ini bersaudara dengan Kiyai Khathib Pranggan, Kiyai Khathib Paddusan, dan Kiyai Khathib Sendang. Dengan demikian, antara Kiyai Taposan dengan Panembahan Sumala masih ada hubungan keluarga yang cukup dekat. Karena ibu Panembahan Sumala, yakni Nyai Izzah masih cucu dari Kiyai Khathib Paddusan. “Kalau tak salah, hitungannya Kiyai Taposan masih paman dari Panembahan Sumala,”jelas Pengasuh PP Suryalaya, Desa Kolor ini.
Selanjutnya, menurut H. Kurniadi, Panembahan Sumala pada suatu waktu berguru pada Kiyai Taposan. Karena sering ke Lalangon, akhirnya Panembahan Sumala membangun tempat peristirahatan di dekat kediaman Kiyai Taposan. Tempat peristirahatan tersebut berupa bangunan rumah atau dhalem yang mulai dari pintu agung, arsitektur hingga tata letak ruangan mirip dengan Keraton Sumenep.
“Tak lama kemudian, bangunan tersebut oleh Panembahan Sumala dihibahkan pada Kiyai Taposan,”imbuh H. Kurniadi, yang merupakan keturunan langsung Kiyai Taposan. Saat ini bangunan keraton mini tersebut di tempati oleh adik H. Kurniadi, yang bernama H. Mudzakkir.
“Bisa sampean sendiri kan ? Bangunan tersebut masih original semuanya. Yang baru hanya warna catnya saja,”pungkas H. Kurniadi sembari tersenyum. ( Farhan, Esha )