Media Center, Kamis ( 23/07 ) Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kabupaten Sumenep bekerja sama dengan Politeknik Elektronika Negeri Sumenep (PENS) menggelar Focus Group Discussion (FGD) kajian model sarana prasarana (sarpas) pertanian presisi berbasis Multi-Parameter Soil Sensing dan AI, sebagai transformasi kebijakan pertanian presisi pada sektor unggulan Kabupaten Sumenep, di Ruang Rapat Kantor BRIDA setempat, Kamis (23/07/2026).
Hasil penelitian awal Analisis Spasial Kesuburan Tanah dan Pemodelan Klasterisasi Pertanian Presisi, menggunakan Multi-Parameter Soil Sensing dan Artificial Intelligence (AI) pada lahan pertanian unggulan Kabupaten Sumenep yang dilakukan oleh Tim Peneliti dari PENS Sumenep, yakni Khoironi, Deny Fardiansyah, dan Akhmad Khairul Umam.
Salah seorang tim peneliti, Akhmad Khairul Umam, mengungkapkan, penelitian yang dilakukan tersebut bertujuan untuk merumuskan naskah akademik analisa konfrehensif, terkait pengembangan sarana dan prasarana pertanian di Kecamatan Rubaru guna mengatasi defisit nutrisi lahan.
“Di samping itu tujuan dari penelitian ini untuk menyusun pedoman teknis tata kelola sarpras pertanian presisi spesifik lokasi,” ujarnya.
Sedangkan manfaat dari penelitian ini menjadi dasar penyempurnaan prosedur tata kelola sarpras, memberikan kepastian informasi kondisi tanah bagi petani, sekaligus menjaga kelestarian dan produktivitas lahan secara berkelanjutan.
Sementara sasaran yang ingin dicapai dalam penelitian tersebut, yakni terkumpulnya data fisik dan kimia tanah seperti temperatur, moisture, conductivity, pH, N, P, K Fertility, dari 150 titik sampel di Kecamatan Rubaru dan Gapura menggunakan sensor S-in-1 Modbus RTU. Kemudian terpetakannya variabel konseptual sarpras eksisting (kondisi irigasi tersier, sumber energi pemompaan PLN/ Diesel, dan tingkat mekanisasi hulu).
“Sasaran berikutnya juga terbentuknya model AI dan klasterisasi lahan, serta tersusunnya dokumen pedoman teknis dan naskah akademik,” jelas Akhmad Khairul Umam yang didampingi Deny Fardiansyah.
Selanjutnya dari hasil metode pengumpulan data salah satunya dengan metode sensorik direct melalui pengukuran langsung menggunakan probe sensor multi-parameter soil sensing 8-in-1 berbasis modbus RTU pada kedalaman 15-30 centimeter dan dashboard web data sever sensor soil.
Dalam kesimpulan berikutnya dari hasil wawancara dengan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) di Kecamatan Rubaru diketahui bahwa 90 persen petani di wilayah tersebut sepenuhnya menggunakan pupuk kimia dan sangat jarang memanfaatkan pupuk organik.
Sedangkan di Kecamatan Gapura produktivitas lahan di sana tinggi dan cenderung stabil serta kondisi tanahnya terjaga dengan baik, karena sisa jerami (daun atau gabah padi) serta kotoran hewan (kohe) sapi dan kambing selalu dikembalikan ke sawah, sehingga sifat biofisik tanah tetap terpelihara.
Sementara Kepala BRIDA Kabupaten Sumenep, Siswahyudi Bintoro, melalui Peneliti Ahli Pertama, Mohammad Alfin Widyanto, mengatakan, riset menjadi instrumen penting dalam mengidentifikasi potensi lokal yang dapat dikembangkan khususnya potensi bidang pertanian yang dilaksanakan pada riset kali ini.
“Kami berharap, melalui kerja sama BRIDA bersama PENS ini hasil akhirnya nanti ada rekomendasi dari hasil riset yang dilakukan. Agar nantinya para pengusaha misalnya bisa melihat kondisi pertanian di Kabupaten Sumenep, sehingga tertarik dan menanamkan modal,” tandasnya.
Di samping itu, melalui FGD yang juga mengundang sejumlah OPD terkait bisa memberi masukan untuk penyempurnaan hasil riset yang dilakukan tim dari PENS, serta hasil akhirnya benar-benar diharapkan tidak hanya menghasilkan aplikasi, tapi juga menghasilkan naskah akademik. ( Ren, Fer )