News Room, Selasa ( 24/03 ) Keberadaan kompleks Pemakaman Raja-raja Sumenep di Asta Tinggi Desa Kebunagung, ternyata tidak bisa dilepaskan dari peranan salah seorang tokoh ulama besar Sumenep asal Kecamatan Ambunten. Sosok yang pernah hidup di sekitar abad ke 18 itu bernama Raden Demang Singoleksono I, atau yang di benak warga Ambunten dikenal dengan sebutan Kyai Macan.
“Dari cerita tutur warga Ambunten sejak dulu kala, Kyai Macan ini salah seorang arsitek Kompleks Asta Tinggi Sumenep. Terutama bagian pagar. Bahkan, pagar batu bata di sekeliling kompleks Asta Tinggi disusun Kyai Macan tanpa menggunakan perekat berupa campuran pasir dan semen,”kata Drs. Moh Raheli, salah seorang warga Ambunten pada News Room (24/03).
Menurut guru di salah satu SD di Kecamatan Ambunten ini, Kyai Macan di Ambunten menjabat sebagai Kepala Ambunten. Jabatan ini mungkin sejenis Wali Kota di jaman sekarang. Karena waktu itu Sumenep masih berstatus pemerintahan keraton.
Kyai Macan juga masih memiliki hubungan kekeluargaan dengan keraton Sumenep, khususnya dari dinasti Yudhonegoro. Beliau juga disebut sebagai salah seorang senopati atau panglima perang keraton.
“Beliau ini sering diminta pendapatnya oleh Raja di masanya, karena dikenal ‘alim dan kharismatik. Konon, Kyai Macan ini pernah sampai ke Belanda atau ada yang mengatakan Aceh untuk mengambil panji-panji kebesaran keraton yang dibawa ke sana.
Bahkan, cerita tuturnya, beliau memakai kendaraan terbang dari pelepah pisang. Ada juga yang bilang naik ikan Mondung atau hiu,”cerita Raheli.
Di kalangan masyarakat Ambunten, Kyai Macan juga dikenal memiliki karomah yang terus diingat hingga saat ini. Dulu, jika ada warga Ambunten kedatangan pencuri yang berhasil mengambil curiannya, warga yang kehilangan langsung mengadu ke Kyai Macan. Setelah itu Kyai Macan langsung mengambil kentongan atau tong-tong dan ditabuhnya berkali-kali sebentar.
Tak lama kemudian, sang pencuri dan barang curiannya datang secara tidak sadar. Akhirnya ketahuanlah pencurinya, dan barang curiannya kembali pada pemiliknya.
“Akhirnya di Ambunten aman dari segala kasus pencurian. Warga pun jadi tenang. Barang-barang berharga pun tidak pernah disembunyikan. Karena tidak ada satu orangpun yang berani mengambil kecuali pemiliknya,”tambah Raheli.
Secara genealogis, berdasarkan catatan kuna, silsilah Kyai Macan yang disimpan salah seorang keturunannya, R. Imamiyah, Kyai Macan merupakan keturunan langsung dari Raden Sutojoyo, salah seorang Manteri Keraton Sumenep yang berkedudukan di Sotabar.
“Raden Sutojoyo ini merupakan tokoh bangsawan dan ulama yang disegani Raja dan pihak keraton, sehingga dipercaya menjaga pintu wilayah utara atau bagian pesisir keraton Sumenep,”kata Imamiyah, yang juga isteri Drs. Moh. Raheli ini.
Dalam catatan tersebut, Raden Sutojoyo ini disebut merupakan putra dari Raden Macan Alas, Waru Pamekasan. Dari jalur pancaran laki-laki (pancer) Kyai Macan Ambunten ini adalah keturunan langsung Sunan Ampel, Surabaya (Syarif Ahmad Rahmatullah), karena Raden Macan Alas Waru, buyutnya, adalah cucu Kyai Putramenggolo, Panembahan Sampang; putra tertua Kyai Candhana Kwanyar Bangkalan, alias Pangeran Purno Jiwo atau Purnojoyo, sepupu Raden Wongsojoyo atau Tumenggung Yudhonegoro, Raja Sumenep.
Kyai Candhana ini salah satu waliyullah besar di Madura di abad ke 15. Dari pihak ayah, Kyai Candhana adalah cucu Sunan Drajat, putra Sunan Ampel. Sedangkan dari pihak ibu, beliau merupakan cucu Sunan Giri, Raja Giri Kedaton.
Kyai Macan wafat dan dimakamkan di Ambunten. Saat ini pusaranya sudah tidak terawat. Padahal secara historis memiliki benang merah dengan kebesaran Sumenep masa lalu, dan merupakan salah satu situs budaya yang harus dilindungi. Makamnya terletak di kampung Guwa Desa Ambunten Tengah.
“Kampung Guwa ini dulu kampungnya ular. Tidak ada satupun dulu orang yang berani. Tapi ya di sini memang dulu dhalemnya (rumahnya; red) Kyai Macan,”jelas Imamiyah. Bagi kalangan khusus, menurut cerita warga sekitar, kini asta Kyai Macan juga sering digunakan orang untuk menyepi. Entah, tergantung niat masing-masing.
Kiyai Macan juga disebut memiliki beberapa keturunan. Di antara ulama Sumenep yang memiliki pertalian darah dengan beliau, ialah KR. Wongsoleksono, Pandian, Imam pertama Masjid Jami’Sumenep, dan KH. Aliwafa, Ambunten, Mursyid Thariqah Naqsyabandi Muzhhariyah. ( Farhan, Esha )