Media Center, Kamis (12/03) Pemanfaatan ruang digital yang semakin berkembang pesat harus dibarengi dengan pengetahuan yang mumpuni dalam memanfaatkan ruang digital secara bijak dan aman. Pakar Mikroelektronika ITB, Budi Rahardjo memberikan tips bagaimana menghindari berbagai bentuk kejahatan siber khususnya menjelang Hari Raya Idul Fitri di mana masyarakat biasanya mendapatkan uang Tunjangan Hari Raya (THR).
Menurut Budi, THR di masa lebaran bisa menjadi pemicu kejahatan siber karena saat itu masyarakat memegang uang lebih. Sehingga harus berhati-hati, kenali segala bentuk kejahatan siber seperti pesan pising berupa undangan pernikahan serta Arah untuk melihat foto paket yang kesemuanya berbentuk apk, serta pesan yang mengarahkan ke kanal tertentu yang tidak resmi agar jangan sampai diklik.
Karena jika itu diklik, kata Budi, data yang ada di perangkat baik itu komputer atau handpone bisa saja langsung. Ia juga mengingatkan agar jangan sampai memberikan ataupun identitas pribadi kepada siapa pun.
“Jangan pernah memberikan data pribadi kepada siapapun,” tegasnya kepada peserta Webinar Cerdas Digital (Cerdik) Bedah Ruang Siber Jilid XIII bertema “THR Utuh, Data Tangguh: Gembok Data Pribadi, Lepas Dari Jebakan Scam & Investasi Bodong”, Rabu (11/03/2026).
Alasannya, data pribadi bisa saja disalahgunakan untuk pinjaman online dan aktivitas ilegal yang diketahui tanpa pemiliknya.
“Sehingga tiba-tiba ditagih hutang colektor, jadi harus hati-hati,”
Pada kegiatan yang diadakan oleh Diskominfo Jawa Timur itu, Ia juga menyarankan agar selalu menerapkan pengamanan terhadap data-data penting yang ada di perangkat.
“Setidaknya password itu lebih bagus daripada tidak ada password,” sarannya.
Akan tetapi pria berkacamata itu juga mengingatkan agar tidak menggunakan kata sandi yang berhubungan dengan data pribadi seperti nama, alamat, tanggal lahir dan lain-lain. Kebiasaan masyarakat Indonesia yang selalu membuat kata sandi dengan menggunakan kombinasi identitas pribadi sangat rentan untuk diretas.
“Jadi kita menganggap itu sesuatu yang sudah diketahui umum,” tegasnya.
Menggunakan dua handpone juga sangat disarankan dalam aktivitas di ruang siber atau yang disebut dengan Strategi “Air Gap”, memisahkan handphone finansial dan sosial. Handphone finansial (HP “Kentang”) khusus trannsaksi dan menerima kode OTP seperti dalam penggunaan M-Banking. Sedangkan satu handphone lainnya Sebagai Handphone Sosial (HP Utama) digunakan untuk sarana komunikasi umum dan hiburan seperti media sosial.
“Sehingga kalau handphone utama kena retas segala macam, tidak ada uangnya, tidak ada yang bisa diambil,” katanya.
Selain itu, Budi juga menyarankan agar jangan mudah mengintall aplikasi, selalu pura-pura sibuk jika ditelpon oleh orang yang mengatasnamakan siapa saja yang mencurigakan.
“Jangan terima telpon dari nama yang tidak ada di phonebook,” tegasnya.
(Herman, Han)