News Room, Senin ( 09/05 ) Kecaman terhadap aksi kekerasan yang dilakukan oknum aparat kepolisian di Surabaya terhadap para wartawan yang sedang melaksanakan tugas dilapangan tidak hanya terjadi di Surabaya, namun di Sumenep para jurnalis melakukan aksi yang sama dengan mendatangi Mapolres Sumenep. Puluhan jurnalis yang terdiri dari para wartawan media cetak maupun media elektronik di Sumenep tadi pagi menggelar aksi peduli terhadap 4 jurnalis yang mendapat perlakuan tidak manusiawi dari oknum aparat. Sejumlah wartawan mendatangi Mapolres Sumenep untuk memberikan sikap mengecam terhadap tindakan kesewenang-wenangan aparat dengan memukul jurnalis yang bertugas meliput berita. Merskipun tidak bisa ditemui langsung Kapolres Sumenep, para wartawan akhirnya diterima Kabag Operasional Polres Sumenep, Komisaris Polisi (Kompol) Edy Purwanto. Setelah melakukan dialog singkat dengan para wartawan di Sumenep itu, Edy Purwanto berjanji akan menindak lanjuti pertemuan dengan wartawan itu dan akan menyampaikan kepada pimpinannya. Edy menyakinkan hal itu tidak akan terjadi di Sumenep, sebab selama ini hubungan wartawan dengan kepolisian di Sumenep cukup baik. Sementara salah seorang wartawan, Muhammad Rosikin yang juga reporter RRI Sumenep mengaku prihatin dengan nasib teman seprofesinya yang mengalami tindakan kekerasan dari Polisi yang seharusnya menjadi pengayom masyarakat, justru menjadi pelaku utama kekerasan pada jurnalis. Seperti yang terjadi di Surabaya Jawa Timur. Untuk diketahui Empat orang jurnalis, Septa Rudianto (Radio Elshinta-Surabaya), Lukman Rozaq (Trans 7 Surabaya) Joko Hermanto (TVRI Jawa Timur) dan Wahyu (JTV Jawa Timur), bersama sejumlah jurnalis lain sedang meliput pawai 500-an aktivis Falun Dafa di Surabaya. Situasi memanas, saat polisi menangkap beberapa orang peserta pawai yang diduga menjadi provokator. Para jurnalis yang melihat itu, langsung mendekat dan berusaha mengambil gambar, foto dan rekaman suara penangkapan itu. Tidak beberapa lama, sejumlah oknum polisi memakai seragam, berteriak dan menghampiri jurnalis. Mereka menyuruh jurnalis untuk tidak mengambil gambar atau mengabadikan penangkapan peserta pawai Falun Dafa tersebut. Saat situasi sudah tidak kondisif, para jurnalis langsung mundur. Tetapi sepertinya mereka tidak mau tahu. Siapa saja yang terlihat sebagai wartawan atau memakai kamera, dipukuli bergantian, meskipun sudah teriak-teriak kalau dirinya wartawan. Dalam pernyataan sikap bersama sejumlah organisasi jurnalis di Jatim diantaranya mendesak permintaan maaf oleh Kapolda Jatim atas kekerasan yang disengaja itu, dan mendesak Kapolda Jatim untuk mengusut tuntas kasus kekerasan terhadap 4 jurnalis dan memberikan sanksi tegas kepada pelaku kekerasan tersebut. ( Ren, Esha )