News Room, Rabu ( 21/03 ) Unit Transfusi Darah (UTD) Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Sumenep dalam beberapa hari ini kesulitan memenuhi permintaan darah oleh pasien. Bahkan, tadi siang, Rabu (21/03) hanya ada 1 kantong darah A, sedangkan darah B masih kosong. Kepala UTD PMI Cabang Usmenep, dr. H. Moh. Saleh, AS mengakui kesulitan memenuhi permintaan darah tersebut, karena banyaknya pendonor yang datang, sementara pendonor masih relatif sepi. Kalaupun ada merupakan relawan donor darah yang memang setiap 3 bulan sekali mendonorkan darahnya. “Berbagai upaya sudah kami lakukan, untuk memenuhi permintaan darah, namun hasilnya juga belum bisa memenuhi dari permintaan pasien,”ujarnya. Karena itu, dr. H. Moh. Saleh mengaku minta ijin pada Bupati Sumenep untuk mendatangi sejumlah Satuan Unit Kerja (Satker) di Kabupaten Sumenep, sehingga kebutuhan darah bisa terpenuhi. Dan mudah-mudahan Satker yang ada nantinya bisa merespon kebutuhan masyarakat untuk mendonorkan darahnya ke PMI Cabang Sumenep. Kendala lainnya, menurut dr. H. Saleh, dimungkinkan pula karena opini yang berkembang di masyarakat, yang masih menganggap PMI menjual darah. Padahal yang ada itu hanya untuk biaya transfusi darah, seperti kantong dan pengolahannya sekitar Rp. 250.000,00 per-kantong. Sebenarnya, tegas dr. H. Moh. Saleh, jika dikalkulasikan, pendonor darah di Sumenep belum mencapai 1 persen dari penduduk yang ada, sedangkan idealnya minimal ada 2 persen dari jumlah penduduk bisa mendonorkan darahnya, maka kebutuhan darah akan terpenuhi. “Mudah-mudahan dengan berbagai upaya yang kami lakukan perlahan kebutuhan darah akan mampu memenuhi kebutuhan pasien utamanya dalam waktu dekat ini,”pungkasnya. ( Ren, Esha )