Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 06-04-2011
  • 604 Kali

Upaya Cetak Siswa Berbudi Luhur, Berakhlak Dan Bermoral Baik

News Room, Rabu ( 06/04 ) Meskipun sangat berat beban guru dengan tanggung jawabnya sebagai pendidik putra-putra bangsa, namun harus tetap dijalaninya dengan penuh tanggung jawab. Baik tanggung jawab kepada Tuhan, Orang tua, Masyarakat serta bangsa dan negara. Sebab, sukses tidaknya pendidikan tetap dipundak gurulah yang harus mempertanggung jawabkan. Hal tersebut diungkapkan Kepala Sekolah Dasar Negeri (SDN) Pangarangan V, Drs. Miftahol Arifin kepada sejumlah wartawan tadi siang, Rabu (06/04). Menurutnya, tanggung jawab yang berat itu akan sulit dilaksanakan tanpa bantuan orang tua dan masyarakat. “Karena itu, keterlibatan orang tua dan masyarakat juga sangat penting dalam mengembangkan pendidikan. Apalagi diera tehnologi yang sangat maju seperti sekarang ini,”ujar Miftahol Arifin. Jika mencetak siswa dibidang mata pelajaran, mungkin sudah tugas yang biasa dilakukan. Namun, untuk mencetak siswa memiliki budi pekerti luhur, beraklah mulia dan memiliki moral yang baik merupakan tanggung jawab yang sangat berat. Apalagi saat ini siswa semakin banyak mendapat kontribusi melalui tayangan televisi, lingkungan keluarga maupun di masyarakat. Sehingga, itu menjadi tanggung jawab semua, khususnya orang tua dirumah. Karena, persentasenya keberadaan siswa lebih banyak dirumah. Salah satu bentuk dukungan dan pengawasan orang tua yakni ketika anak berada di rumah perlu membatasi pergaulan putra-purinya dengan anak nakal dan pengangguran, serta tidak mengizinkan putra-purinya ke warnet tanpa didampingi orang tuanya. Sebab, segala macam website maupun facebook masih banyak yang tidak terkontrol menayangkan gambar yang tidak layak ditonton. Sementara guru harus mampu menjadi tauladan yang baik bagi siswa. Baik melalui perbuatan, tingkah laku dan tutur kata sehari-hari. Sebab, saat ini banyak tayangan di media massa maupun elektronik, oknom guru melakukan tindakan yang tidak terpuji, sehingga dampaknya sangat luas dan menjadikan guru lain sering kena getahnya. Misalnya, ketika seorang guru yang berbuat amoral, semua orang mudah tahu. Meskipun misalnya 10 persen guru yang melakukan seakan-akan terbalik, yakni guru yang berbuat amoral menjadi 90 persen. Sebab, seakan menjadi sorotan terus dibandingkan dengan orang berprofesi lain melakukan hal yang sama. ( Ren, Esha )