Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 21-06-2026
  • 40 Kali

Uniba Gelar FGD Representasi Identitas Budaya Madura dalam Film dan Media Populer

Media Center, Ahad (21/06) Tim Peneliti Hibah Penelitian Dosen Pemula (PDP) Universitas Bahauddin Mudhary (Uniba) menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertema “Representasi Identitas Budaya Madura dalam Film dan Media Populer: Analisis Semiotika dan Konstruksi Makna Visual”, Sabtu (20/06/2026). Kegiatan berlangsung di ruang Ariskul Fikri sejak pukul 09.00 pagi hingga menjelang sore.

Penelitian diketuai oleh Bondan Dewabrata yang beranggotakan Ridy Sulhana dan Supriadi dengan melibatkan mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Uniba dan Komunitas Film Ginok. 

Kegiatan dimulai dengan menyeleksi 15 film hasil produksi kolaborasi mahasiswa dan komunitas film oleh dewan juri yang terdiri dari tiga orang. Yaitu R. Khaeru Ahmadi, Wakil Rektor II UNIBA Madura sekaligus Dosen pengampu mata kuliah Madura Culture dan Philosophy of Science; Deny Feri Suharyanto, Dosen Desain Komunikasi Visual Universitas Wiraraja (Unija); dan Mohammad Farhan Muzammily, pemerhati sejarah dan budaya sekaligus Anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Sumenep.

Belasan film yang diputar tersebut mengangkat berbagai aspek budaya Madura untuk selanjutnya dipilih 10 terbaik, hingga akhirnya dibahas bersama dalam FGD. Hasilnya, ditetapkan sekaligus diambil 7 film sebagai sampel utama penelitian.

Menurut Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi Uniba sekaligus penanggungjawab kegiatan, Siti Sa’adah, FGD menghasilkan beberapa temuan dan sekaligus rekomendasi. Di antaranya menunjukkan bahwa film karya mahasiswa memiliki potensi besar dalam merepresentasikan identitas budaya Madura.

“Terdapat berbagai simbol budaya, nilai sosial, tradisi, dan kearifan lokal yang muncul dalam film. Di samping itu, film menjadi media efektif untuk dokumentasi dan pelestarian budaya,” tegasnya pada Media Center, Ahad (21/06/2026).

Harapan Sa’adah, hasil FGD nantinya selain bisa menjadi dasar penyusunan hasil penelitian Hibah PDP, juga menghasilkan rekomendasi pengembangan film berbasis budaya Madura. Bahkan dapat mendorong kolaborasi antara akademisi, komunitas film, dan pelaku budaya, sekaligus mendukung pelestarian identitas budaya Madura melalui media kreatif dan digital.

“FGD ini, jelas dan tentunya menjadi forum akademik untuk memvalidasi karya film sekaligus memperkuat upaya pelestarian budaya Madura. Hasil diskusinya juga akan digunakan sebagai bahan analisis penelitian dan pengembangan film budaya di masa mendatang,” imbuhnya

Sementara dari pihak dewan juri yang sekaligus menjadi narasumber FGD memberikan beberapa catatan penting, bahwa film menjadi salah satu media yang bisa memperkuat akurasi representasi budaya, khususnya Madura. Sehingga dapat menjaga keaslian nilai dan filosofi budaya lokal.

“Sebagai masukan, sebaiknya dihindari penghilangan atau penyederhanaan makna budaya dalam visualisasi film. Memperhatikan penggunaan simbol, bahasa, tradisi, dan unsur budaya secara tepat, dan terakhir bisa mengembangkan film budaya yang edukatif sekaligus menarik bagi generasi muda,” jelas Khaeru Ahmadi mewakili dua narasumber lainnya.

(Han)