News Room, Senin ( 06/01 ) Sekitar 50 mahasiswa Universitas Wiraraja (Unija) Sumenep yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Unija Menggugat (Amug), Senin (06/01) pagi, kembali menggelar aksi unjuk rasa ke Rektorat. Para mahasiswa berunjuk rasa di depan Kantor Rektor. Mereka mengecam kebijakan Rektor memberlakukan sistem paket dalam pembayaran sistem kuliah. Mahasiswa menuntut dikembalkan pada sistem SKS. "Rektor tidak berpihak pada mahasiswa ekonomi lemah. Sistem paket untuk pembayaran kuliah, sama dengan menyuburkan kapitalisme kampus !,"teriak Ahmad Zainullah, salah seorang orator. Para mahasiswa menuntut agar Rektor turun dari jabatannya, apabila tidak mau memenuhi tuntutan mahasiswa. "Kami tidak butuh negosiasi. Yang kami perlukan pernyataan Rektor untuk mencabut sistem paket dan kembali pada SKS. Kalau tidak mau, lebih baik rektor mundur dari jabatannya,"tegasnya. Para pengunjuk rasa juga menyesalkan kebijakan Rektor yang dianggap sebagai kebijakan tangan besi, yang diambil tanpa memperhitungkan kondisi mahasiswa. "Kalau memang rektorat bersikap otoriter, tidak hanya rektor yang harus turun. Yayasan juga harus dibubarkan, dan kembalikan Unija ke Pemkab,"ujarnya. Sementara Rektor Universitas Wiraraja (Unija) Sumenep, Dra. Hj. Alwiyah, menolak tuntutan mahasiswa untuk mencabut pembayaran kuliah sistem paket dan kembali pada sistem SKS. "Kami tidak mungkin mengubah sistem paket. Kebijakan pembayaran itu sudah ada sejak 2 tahun lalu. Dan itu diberlakukan bagi mahasiswa baru yang masuk sejak 2 tahun lalu itu. Bagi mahasiswa baru. Bukan untuk semua mahasiswa Unija,"tandasnya. Pembayaran biaya kuliah dengan sistem paket tersebut telah dicantumkan dalam brosur saat mahasiswa baru mendaftar di Unija. Selain itu, ketika calon mahasiswa diterima sebagai mahasiswa Unija, maka mereka menandatanngani surat pernyataan kesanggupan mentaati segala aturan di Unija. Surat pernyataan tersebut diketahui oleh orang tua mahasiswa. "Artinya kan mereka sendiri yang sudah menyatakan kesanggupan untuk mengikuti aturan yang diberlakukan di Unija. Saya bicara berdasarkan bukti,"tandasnya. Hj. Alwiyah membantah apabila sistem paket memberatkan mahasiswa tidak mampu. Menurutnya, Rektor telah memberi kebijakan bagi mahasiswa yang belum mampu membayar kuliah. "Tidak akan ada satupun mahasiswa Unija yang terpaksa cuti kuliah, atau tidak bisa ikut ujian karena tidak ada biaya. Catat pernyataan saya ini. Saya pasti memberikan kebijakan pada mahasiswa yang kesulitan biaya kuliah,"ungkapnya. Alwiyah menandaskan, pihaknya hanya mempunyai dua opsi bagi mahasiswa yang menuntut penghapusan sistem paket. Mengikuti aturan yang ada, atau mengundurkan diri dari mahasiswa Unija. "Karena memang tidak bisa kami menghapus atau merubah sistem paket. Jadi pilihan kami hanya itu. Ikuti aturan, atau mundur sebagai mahasiswa Unija,"ungkapnya. ( Nita, Esha )