Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 16-06-2011
  • 445 Kali

Tingkatkan Nilai Ekonomi Kopra, Perlu Alat Mesin Produksi

News Room, Kamis ( 16/06 ) Potensi kopra yang mulai marak di Kabupaten Sumenep mulai dilirik Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Sumenep, untuk menjadikan potensi kelapa yang ada tidak hanya cukup untuk pembuatan kopra yang nilai ekonomisnya belum terlalu tinggi dibandingkan biaya dan pembuatannya. Karena itu, Disperindag Kabupaten Sumenep akan mencoba melakukan kajian dan perlu study banding ke daerah yang memiliki potensi kelapa, namun bisa mengembangkan industri kopra menjadi barang industri yang lebih bernilai ekonomi. “Selama ini, potnesi kelapa yang ada kalau hanya dijual dalam bentuk kopra masih relatif kurang memiliki harga jual maksimal, kalau dalam bentuk saripati atau biangnya mungkin baru bisa lebih mahal,”ujar Kepala Disperindag Sumenep, Drs. R. H. Achmad Aminullah, M.Si kepada News Room di kantornya tadi siang, Kamis (16/06). Hanya saja menurut mantan Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Sumenep ini, untuk memproses kopra menjadi minyak, masih perlu peralatan dengan biaya yang sangat mahal dan sulit, sehingga paling tidak memiliki alat untuk memproses kopra menjadi saripati atau biang. Perusahaan minyak seperti Bimoli dan sebagainya dapat menerima dalam bentuk bahan baku yang tinggal proses penyulingan kepada bahan jadi. Sementara, saat ini para pengusaha kopra hanya bisa menjual dalam bentuk bahan mentah kopra. Dan kalaupun dijadikan minyak maupun diambil saripatinya hanya dengan peralatan manual yang tidak maksimal. Karena itu H. Aminullah berharap, tahun 2012 mendatang bisa mengalokasikan pengadaan alat modern untuk memproses kopra menjadi bahan saripati, sehingga tidak banyak mengeluarkan biaya transportasi dan secara ekonomis hasilnya bisa meningkat. Disamping itu, beberapa hasil produk indutri, seperti genting Andulang dan Manding juga perlu untuk dicarikan alat yang mampu memproduksi genting, seperti genting Karang Pilang Sidoarjo, sehingga bisa menampung para pengrajin genting yang selama ini dihasilkan secara manual dan sulit diterima para pengusaha yang harus dengan kwalitas standar ketika mendapat proyek. ( Ren, Esha )