Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 05-12-2016
  • 1937 Kali

Tiga Tradisi Madura Yang Libatkan Sapi

News Room, Selasa ( 06/12 ) Sapi, bagi masyarakat Madura merupakan komoditas mahal. Ia bahkan menjadi ikon pulau garam dengan kemasan karapan sapinya. Begitu terkenalnya hewan ternak yang satu ini hingga setidaknya ada tiga tradisi di Madura yang harus melibatkan sapi sebagai pemeran utamanya—paling tidak hingga dewasa ini; yaitu, karapan sapi, sapi sono’ dan aresan sapi.

Sebelum masuk pada aresan sapi, mungkin tak ada salahnya jika bicara asal-muasal ketenaran hewan ternak yang di bumi Hindustan sana disucikan itu. Sapi selain dimanfaatkan dagingnya untuk dikonsumsi sebagai lauk-pauk juga banyak bermanfaat bagi dunia tani. Hewan yang satu ini memang sering diambil jasanya untuk membajak sawah. Terlebih di Madura yang gersang dan tandus.

Saking tandusnya, sehingga konon, di jaman dulu, hampir tak ada orang Madura yang berprofesi sebagai petani. Hampir kebanyakan orang—apalagi yang memang dekat dengan daerah pesisir, memilih melaut untuk menyambung hidup. Hingga di abad 15, seorang alim besar dari negeri Kudus menginjakkan kakinya di bumi Raden Sagoro ini.

Alim besar dan sekaligus sosok berdarah biru itu putra penguasa Kudus. Beliau bahkan cucu seorang waliyullah agung di Kudus, yaitu Waliyyul ‘Ilm; Kangjeng Susuhunan Kudus. Alim besar itu bernama Sayyid Ahmad Baidlawi, atau yang dikenal dengan sebutan Pangeran Katandur.

Pangeran Katandur rupanya seorang pakar pertanian. Kondisi tanah Madura—khususnya Sumenep yang menjadi tempat singgah beliau—yang dikenal tak subur dan berkapur itu dinilainya perlu sentuhan ilmu agar bisa bermanfaat bagi petani.

Saat itulah, sang Wali mengenalkan cara bercocok tanam dengan menggunakan sepasang bambu (nanggala) yang ditarik oleh dua ekor sapi untuk membajak sawah. Cara baru ini efektif. Sang Wali juga mengajarkan cara bercocok tanam atau ilmu bertani sehingga kondisi warga berubah. Nah, lambat laun, mekanisme bajak sawah itu bermetamorfosis menjadi ajang lomba dan tradisi karapan Sapi.

Namun menurut salah satu tokoh budayawan Madura asal Kabupaten Sumenep, almarhum RP. Abd. Sukur Notoasmoro, karapan sapi justru berawal di masa Panembahan Sumolo alias Notokusumo putra Bindara Saut, yang notabene merupakan keturunan Pangeran Katandur. Masa keduanya diselingi waktu sekitar satu setengah abad.

“Tradisi ini diciptakan oleh Panembahan Sumolo untuk menggairahkan sektor tani di masa kemarau,” kata RP. Abd. Sukur, seperti yang ditirukan salah satu menantunya, DR. Mohammad Saidi, pada News Room beberapa waktu lalu. Selain karapan sapi, kurang lebih setengah abad silam, muncul tradisi baru yang sejenis. “Artisnya” ya, tetap sapi. Hanya saja, bintangnya sapi perempuan. Karena perempuan, kemasan yang disodorkan beda, yaitu kontes kecantikan nyonya atau nona sapi. Populer dengan sebutan sapi sono’.

Puluhan tahun kemudian, tradisi baru muncul lagi di beberapa tempat di Madura, termasuk Kabupaten Sumenep. Tradisi ini dikenal dengan aresan sapi. Aresan sapi mirip kontes sapi sono’.

“Hanya saja tidak didandani layaknya sapi sono’. Yang dikonteskan fisik saja,” kata Rusydi, salah satu warga Kecamatan Batang-Batang.

Disebut aresan karena ada kegiatan semacam arisan di dalamnya. “Biasanya diselenggarakan setiap minggu. Giliran sesuai kesepakatan anggota,” tutup salah satu kuli tinta ini. ( M. Farhan, Fer )