Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 02-07-2015
  • 887 Kali

Teknologi Berbudaya Dan Membudayakan Teknologi

News Room, Jumat ( 03/07 ) Dunia mulai berkembang dengan teknologi yang seakan menembus batas kebekuan. Setiap orang dengan latar belakang budaya manapun, sulit untuk lepas dari arus teknologi.

Dunia sudah berputar mengikuti kecepatan detik jarum jam. Semua orang selalu didesak, dibuat tergesa-gesa, disetting menjadi insan serba “kurang waktu”. “Ya, inilah imbas teknologi. Semua orang takut terlambat. Sukanya hanya pada yang praktis-praktis. Akhirnya terjadi perubahan angin. Budaya kita bisa terlindas oleh roda teknologi,”kata Rabiatul Adawiyah, S,Pd, salah seorang pemerhati budaya di Sumenep, pada News Room.

Menurut ibu 3 anak ini, ketika teknologi sudah tidak terkontrol, disinilah budaya diperlukan. “Sebagai orang timur, kita sedikit terbiasa dengan yang namanya jeda. Itulah budaya. Seperti ketika kita perlu dihibur dengan pertunjukan teater rakyat. Seni tarian tradisional. Ataupun sekadar menikmati anugerah pagi hari berupa udara segar dengan kicauan burung yang begitu alamiah. Jadi kita perlu harmonisasi. Antara budaya dan teknologi,”pungkasnya.

Terpisah Achmad Nizar, SH, salah seorang yang menggeluti dunia IT di Sumenep mengatakan, bahwa perkembangan teknologi di Indonesia merupakan kebangkitan bangsa atau nasional.

Apalagi di jaman ini menurutnya, ketergantungan manusia pada teknologi terlampau tinggi. “Orang butuh informasi yang cepat. Alat transportasi yang cepat. Dan itu hanya bisa dijawab oleh teknologi. Kita sudah tidak lagi hidup di hutan rimba maupun padang pasir,”katanya sambil tersenyum.

Meski begitu, Nizar mengakui bahwa penggunaan teknologi seyogianya tidak sampai menghilangkan identitas ketimuran. “Secara sederhana saja, kita ambil manfaat positifnya. Jangan sampai teknologi merubah perilaku. Kita harus mengontrol itu. Seperti televisi misalnya, tidak semua yang ditayangkannya bagus dan positif. Nah, disinilah kemudian kita harus bisa berdiri kokoh. Jangan sampai ikut arus negatif dari perkembangan teknologi. Terutama para generasi muda kita, yang relatif lebih mudah dipengaruhi, karena faktor usia maupun pengalaman yang masih sedikit,”tambah pria berusia 29 tahun yang menguasai berbagai program komputer secara otodidak ini.

Senada dengan Nizar, Adi Gunawan, S.Pd, salah seorang guru di Sumenep mengatakan bahwa masyarakat harus lebih cerdas, sehingga bisa memilah dan memilih manfaat dari teknologi.

Ia mengaku sangat menyayangkan ketika ada orang yang alergi teknologi karena lebih mengkhawatirkan timbulnya aspek negatif di dalam perkembangan teknologi. “Ini harus kita beri pencerahan. Beda dengan alergi teknologi karena gaptek, cukup dengan rajin mempelajari. Jadi, jangan sampai hal-hal atau imbas negatif yang masih sifatnya kemungkinan itu menghantui kita sehingga alergi pada teknologi. Teknologi harus dibudayakan, tapi tentu saja tetap tanpa menghilangkan budaya atau perilaku kita sebagai orang timur,”pungkas guru SMP ini. ( Farhan, Esha )