News Room, Selasa ( 05/11 ) Salah seorang siswa terbaik asal Kabupaten Sumenep kembali meraih prestasi yang membanggakan di tingkat Nasional. Taufiqur Rahman, siswa kelas III di Madrasah Aliyah (MA) Tahfid An-Nuqoyah Guluk-guluk berhasil meraih Juara I Lomba Essai Sosial Budaya Nasional yang dilaksanakan Puslitbang Kebudayaan Kemendikbud tahun 2013 ini. Taufiqur Rahman berhasil menyisihkan 1.380 peserta dari seluruh Indonesia. Sebagai apresiasi dari prestasi yang diraih Taufiqur Rahman yang berasal dari Kecamatan Gapura ini, Bupati Sumenep, KH. A. Busyro Karim, M.Si menyerahkan Piala dan uang pembinaan sebesar Rp. 4 juta pada kegiatan Pembukaan Gerak Jalan Sholawat yang dilaksanakan GP Anshor Sumenep, Minggu (05/11) di depan Masjid Jamik Sumenep. Dalam kesempatan tersebut Bupati berharap pula, agar rasa optimis yang dilakukan Taufiqur Rahman, yang berasal dari sebuah Desa di Sumenep, menjadi sebuah pelajaran yang berarti, hingga mampu meraih prestasi nomor I tingkat nasional. Karena itu, dimasa depan dari Sumenep akan muncul untuk menjadi pemimpin di Republik ini. Sementara Taufiqur Rahman kepada News Room mengaku tertarik dengan dunia penulisan sejak SMP, dan sejak sekolah MA dan mondok di An-Nuqayah Guluk-guluk, mengaku terus memproses dini dengan mematangkan karya-karyanya untuk dilombakan. Bahkan sejak kelas I MA, anak dari Abdurrahman dan Nursiti ini sudah 6 kali mengikuti lomba karya tulis, dan ternyata tahun ini mampu meraih juara I tingkat nasional. Dijelaskan, tema tulisannya mengangkat tentang “Hidup Harmonis Di tengah Perbedaan.”. Dimana menurutnya, Taufiqur Rahman mengangkat mengenai multikultural di Pesantren yang ternyata di Pesantren sudah memiliki benih-benih multi kulturalisme yang membangun keharmonisan di tengah perbedaan. “Saya ingin turut mewarnai Indonesia dalam ranah penulisan, karena selama ini Madura khususnya masih kental dengan stigma miring, seperti carok dan semacamnya,”ungkapnya. Melalui tulisan Taufiqur Rahman, yang memiliki cita-cita ingin menjadi orang yang berguna bagi Agama dan Bangsa ini mengaku ingin mengangkat kearifan lokal yang bisa dikembangkan menjadi sebuah yang unik untuk dikembangkan. ( Ren, Esha )