Sumenep-Kominfo News Room : Meskipun sudah memasuki era reformasi, ternyata kedudukan perempuan dalam pembangunan masih terkesan dikesampingkan, padahal kedudukan antara perempuan dan laki-laki itu sudah disamakan tanpa pandang bulu. Pernyataan itu dilontarkan Rosina, Ketua Serikat Buruh Migran Indonesia wilayah Madura, ketika melakukan audiensi dengan Kepala Bappeda Kabupaten Sumenep, Ir. H. Soengkono Sidik, S.Sos, M.Si. Rosina menuturkan, sesuai dengan fakta yang ada, partisipasi kaum perempuan dalam pembangunan masih terjadi ketimpangan antara perempuan berprestasi dengan yang tidak. Terbukti, selama ini potensi perempuan yang dilakukan untuk pembangunan disuatu daerah, masih didominasi oleh kelompok Dharma Wanita dan PKK, sehingga, perempuan yang berdomisili di daerah pinggiran maupun pedesaan terpensil tidak memiliki akses untuk ikut andil dalam berkiprah merencanakan suatu pembangunan, bahkan hal itu menyebabkan terjadinya kecemburuan sosial. Sementara itu, Kepala Bappeda Kabupaten Sumenep membantah, jika perempuan di Kabupaten Sumenep kurang dilibatkan dalam proses pembangunan. Karena, menurut H. Soengkono, selama ini peran perempuan sangat dilibatkan dalam proses pembangunan, seperti halnya musyawarah rencana pembangunan Desa, kaum perempuan selalu dilibatkan, baik mulai dari pencarian ide, perumusan konsepsi hingga ke proses aplikasi. Karena itu, pihaknya sangat tidak setuju dengan pandangan dari Serikat Buruh Migran Indonesia wilayah Madura, yang mengatakan bahwa kaum perempuan yang dilibatkan dalam proses pembangunan hanya yang dekat dengan aparat perumus kebijakan. (Nita,Esha)