News Room, Rabu ( 21/05 ) Meski pagelaran seni budaya yang diselenggarakan Forum Komunitas Seni (FKS) Sumenep telah usai, namun rupanya Dewan Kesenian Sumenep (DKS) tidak mengetahui pelaksanaan pagelaran seni tersebut. Ketua DKS Sumenep, Syaf Anton WR, megaku tidak tahu-menahu soal pagelaran seni yang dilaksanakan FKS. Pasalnya, pihaknya hanya sempat didatangi para seniman muda yang mengajak untuk melakukan kegiatan seni di Sumenep, namun lebih lanjut pihaknya tidak mengetahui apa yang dilakukan para seniman muda itu. Soal dilaksanakannya Musyawarah Budaya yang dilaksanakan FKS yang selanjutnya memilih kepengurusan DKS baru, Anton mempersilahkan siapapun boleh membentuk organisasi. Karena pada dasarnya DKS dibentuk tidak lebih dari LSM yang bergerak dibidang seni budaya. Kalaupun memang harus ada DKS baru, Syaf Anton tidak akan mempersoalkan, karena itu merupakan hak setiap seniman membentuk organisasi apapun. “Silahkan saja, tapi yang jelas DKS dulu dibentuk oleh para seniman di Sumenep, yang waktu itu sebelumnya bernama Sanggar Kembara, kemudian karena dinilai kurang efektif berubah nama lagi menjadi Forum Bias kemudian baru terbentuk yang namanya DKS.†ujar Syaf Anton mengenang terbentuknya Dewan Kesenian Sumenep. Lebih lanjut Anton berharap siapapun yang melaksanakan kegiatan dan berorganisasi kesenian dipersialahkan. Namun harapannya, para seniman itu hendaknya jangan sampai terbawa oleh berbagai kepentingan, baik itu politik atau kepentingan lainnya. Karena ditengarai ada indikasi lahirnya seniman plat merah, biru, kuning dan sebagainya. Tapi seniman berkumpul untuk menciptakan kesenian, bukan karena kepentingan tertentu untuk diakui sebagai seniman tapi tidak memiliki etika seni dan budaya yang seharusnya dijunjung bersama oleh para seniman itu sendiri. ( Ren, Esha )