Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 02-05-2009
  • 710 Kali

Sengketa Lahan, Balai Desa Banjar Barat Disegel Warga

News Room, Sabtu ( 02/05 ) Balai Desa Banjar Barat, Kecamatan Gapura, disegel warga. Pemilik lahan, H Ahmad (47) warga setempat menutup paksa Balai Desa dengan cara memberi bambu di pintu masuk dan memancang spanduk bertuliskan 'Balai Desa Ditutup Karena Berada Di Lahan Sengketa'. Aksi penutupan lahan tersebut, ditopangi persoalan tukar guling lahan yang dibangun Balai Desa, sampai saat ini tidak kunjung dilakukan, sehingga, pemilik lahan dan para ahli warisnya merasa dikelabuhi. Para ahli waris lahan tersebut tetap menutup paksa dan mendesak agar status tukar guling lahan yang terjadi pada tahun 1992 lalu mempunyai kekuatan hukum. Pemilik lahan, H Ahmad mengatakan, pihaknya sudah lama berusaha melakukan pendekatan secara kekeluargaan, baik pada Kepala Desa maupun pada pihak Kecamatan. Bahkan, sempat mengirim surat pada lembaga legislatif, namun tidak ada respon. “Kami terpaksa menutup Balai Desa ini. Mungkin dengan cara menutup Balai Desa ini, semua pihak yang terkait bisa terbuka hatinya,”ujar H. Ahmad pada wartawan di Balai Desa Banjar Barat, Kecamatan Gapura, Sabtu (02/05) siang. Ia mengaku, akan tetap menutup Balai Desa selama pihak aparat Desa tidak menyelesaikan status tukar guling lahan yang ditempati Balai Desa. Ditempat yang sama, Camat Gapura, Drs. H. Ahmawi, M.Si meminta agar pemilik lahan memikirkan pelayanan administrasi Desa. “Saya tetap meminta pemilik lahan untuk tidak menutup Balai Desa. Soal status tukar guling lahan akan difasilitasi, agar cepat terselesaikan. Tapi, butuh waktu lama, karena harus dilaporkan kepada Bagian Pemerintahan Desa Sekretariat Daerah Kabupaten Sumenep,”kata H. Ahmawi pada wartawan di Balai Desa Banjar Barat, Kecamatan Gapura,, Sabtu (02/05). Menurut dia, tidak ada persoalan yang tidak dapat diselesaikan, asal dijalani dengan kepala dingin dan atas dasar fakta dan hukum yang ada. Sementara, Kepala Desa (Kades) Banjar Barat, Mastawi mengaku tidak tahu pasti persoalan tukar guling mengenai lahan pembangunan Balai Desa ini. “Saya baru sekarang menjabat Kades. Jadi, saya tidak tahu persoalan tukar guling tersebut,” terangnya. Dengan penutupan Balai Desa itu, kata dia, pihaknya terpaksa memindahkan pelayanan masyarakat ke rumahnya. “Semua pelayanan administrasi untuk sementara saya pindahkan ke rumah dulu. Saya tidak mau persoalan ini mengganggu sistem pelayanan kepada masyarakat,”tegasnya. ( Nita, Esha )