Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 24-01-2009
  • 527 Kali

Ratusan Warga Kecamatan Sapeken Duduki Kantor PLN

300 warga Desa/Kecamatan Sapeken, menduduki Kantor PLN setempat. Mereka memprotes pelayanan PLN yang hanya menghidupkan aliran listrik selama 8 jam. Padahal, setiap hari seharusnya menyala 10 jam. Ratusan pelanggan tersebut menduduki Kantor PLN, sejak Jumat (23/01) sore hingga Sabtu (24/01) pagi. Para pelanggan itu tidak percaya dengan alasan PLN, bahwa pengurangan jam pelayanan karena kekurangan solar. Namun, pelanggan PLN di Sapeken yang mencapai 879 KK tersebut memutuskan untuk tetap menduduki Kantor PLN, karena pimpinan PLN Sapeken 'menghilang' sejak warga sering protes. Bahkan, informasi yang diterima pelanggan, pimpinan PLN Sapeken, Rukmuno mengajukan pindah tempat kerja. Salah seorang tokoh masyarakat Desa/Kecamatan Sapeken, Joni (39) mengatakan, selama ini PLN selalu berkilah, jika pengurangan jam pelayanan itu karena kekurangan BBM. Padahal, jatah solar tetap lancar pengirimannya dan DO-nya mencapai 25 ton setiap bulan. “Makanya, warga nekat menduduki Kantor PLN guna mengetahui keberadaan solar yang digunakan, serta minta pertanggung jawaban pimpinan PLN Sapeken yang menghilang sejak 2 pekan terakhir,”kata Joni, ketika dihubungi melalui jaringan telepon, Sabtu (24/01). Diduga, pengurangan jam pelayanan PLN di Sapeken dari 10 jam menjadi 8 jam itu permainan dari pimpinan PLN setempat. Sebab, dengan pengurangan jam pelayanan, otomatis mengurangi penggunaan BBM. Dalam pendudukan Kantor PLN Sapeken tersebut, pihak Muspika setempat berusaha menenangkan masyarakat dan menghimbau agar tidak melakukan sikap anarkis. Pihak kepolisian setempat juga melakukan pengamanan di Kantor PLN. Rencananya, masyarakat tetap akan bertahan sambil menunggu datangnya pimpinan PLN Sapeken. Sementara itu, salah seorang staf PLN Sapeken, Hari mengaku tidak mempunyai kewenangan untuk menyikapi persoalan tersebut. “Saya tidak bisa berbuat apa-apa. Semua kebijakan ada ditangan pimpinan dan saat ini sedang tidak ada di pulau,”ujar Hari dihubungi melalui telepon genggamnya, Sabtu (24/01). Dia mengaku tetap akan bekerja seperti biasa, dan penyalaan listrik tetap 8 jam, yakni mulai pukul 17.30 WIB hingga pukul 24.00 WIB. Kemudian, hidup kembali pukul 03.00 WIB hingga pagi. ( Nita, Esha )