News Room, Jumat ( 21/06 ) Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Pergerakan Cakanca Bindhara Santre (Pacabis), Jumat (21/06) pagi, melakukan aksi penolakan kenaikan harga BBM di depan SPBU Desa Kolor, Kecamatan Kota Sumenep. Dalam aksinya, para pendemo menyandera dan minyita mobil plat merah Nopol M 1881 WP. Aksi mahasiswa memanas ketika membuka mobil plat merah tersebut dan menemukan 2 jirigen kosong berukuran 50 liter, disembunyikan di jok belakang. Mahasiswa kemudian naik dan menginjak-injak kap atas mobil, berorasi dan berteriak mengecam ditemukannya jirigen di dalam mobil dinas pejabat. Mahasiswa mengambil dan mengacung-acungkan jirigen, sambil berteriak menuding itu sebagai upaya penimbunan. Korlap aksi, Moh. Saddam Husin mengatakan, para mahasiswa menolak pemerintah menaikkan harga BBM, karena jika dinaikkan secara otomatis harga kebutuhan pokok akan melambung tinggi, sehingga masyarakat miskin akan semakin melarat. “Kami terpaksa menyandera mobil plat merah itu, karena di duga mobil tersebut akan melakukan penimbunan BBM. Sebab, di dalam mobilnya ditemukan adanya 2 jerigen berukuran 50 liter,”tandasnya. Beruntung aksi penyanderaan mobil dinas tersebut tidak berlangsung lama, setelah aparat kepolisian berusaha membujuk dan bernegosiasi dengan para mahasiswa. Aksi mahasiswa menolak kenaikan harga BBM, dimulai dari depan SPBU Kolor, DPRD, dan Pemkab, di lakukan dengan long marc sepanjang 3.000 meter, dalam aksinya, para mahasiswa mengencam tindakan pemerintah dan menolak rencana pemerintah menaikkan harga BBM. “Kami menolak keras kenaikan harga BBM. Kalau BBM naik, semua kebutuhan pokok akan naik. Itu menyengsarakan masyarakat. Yang miskin akan semakin miskin,”terangnya. Setelah melakukan penyanderaan mobil plat merah di depan SPBU di Jalan Trunojoyo Kolor Sumenep, para mahasiswa melanjutkan aksinya ke kantor DPRD setempat guna menyampaikan aspirasinya menolak kenaikan harga BBM, dan berakhir di Kantor Pemkab Sumenep. ( Nita, Esha )