News Room, Rabu ( 27/05) Produksi rengginang (Nangginang Madura) di Desa Pragaan Laok Kecamatan Pragaan, beberapa hari terkahir ini menagalami kendala produksi. cuaca yang tidak menentu seringkali menjadi kendala proses pengeringan produksi rumah tangga ini. Sehingga hasil produksi rengginang tidak maksimal. Hal itu diakui salah satu pemilik industri rumah tangga rengginang, H. Moh. Saleh. Dijelaskannya kepada News Room, Saleh mengaku dalam beberapa hari terakhir, usahanya istirahat karena tidak ada sinar matahari. "Kendalanya memang ketika tidak ada panas matahari, utamanya pada musim-musim penghujan, dan kondisi cuaca akhir-akhir ini yang lebih dominan hujan. Sebab, untuk memiliki alat pengering, biayanya sangat mahal, ujar H. Saleh. Lebih lanjut menurut H. Saleh, jika normal setiap hari biasanya mampu menghasilkan 800 bungkus rengginang yang berbahan baku sekitar 6 kwintal. Dalam setiap bungkusnya bisa dijual antara Rp. 10.000,00 hingga Rp. 12.000,00 sesuai ukurannya. Bahkan, Saleh mengaku seringkali kekurangan rengginang dengan banyaknya pemesan. Keinginan untuk meningkatkan produksi rengginangnya, H. Saleh mengaku memang ada, namun masih terkendala kurangnya lahan untuk menjemur. Namun, meskipun hanya dalam skala kecil, saat ini setiap harinya ia mempekerjakan 20 orang, yang rata-rata perempuan, dengan ongkos perhari sekitar Rp. 20.000,00 dengan sistem borongan. Sementara itu, pemesan rengginang milik H. Saleh datang dari berbagai daerah, mulai wilayah Madura sendiri, Surabaya, Malang, Jember, Banyuangi, hingga Jawa Barat. Bahkan terkadang ada pesanan khusus dari Kalimantan. Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan rengginang adalah dari berbagai macam ikan, seperti udang, tengiri, lorjuk, kerang kecil dan lain sebagainya. Untuk memenuhi bahan bakunya juga seringkali didatangkan dari Pasuruan dan sekitar wilayah Madura. ( Ren, Adjie )