News Room, Rabu ( 23/05 ) Setelah mencapai kedalaman 5.602 Fit, pengeboran minyak yang terletak di Desa Tanjung Kecamatan Saronggi akhirnya dihetikan sementara. Hal tersebut disebabkan adanya gerakan masyarakat yang mengkhawatirkan terjadinya luapan lumpur, seperti yang terjadi di Pengeboran Lapindo Sidoarjo. Berkaitan dengan hal tersebut, Pemerintah Kabupaten Sumenep, Rabu siang (23/05) melakukann rapat koordinasi (raker) dengan unsur-unsur terkait, yakni Asisten Bidang Pemerintahan, Asisten Bidang Administrasi Umum, Badan Lingkungan Hidup, Dinas Perikanan dan Kelautan, Bagian Hukum, Bagian Umum, Satuan Pol PP dan Forpimka Saronggi. Rakor dihadiri juga oleh pihak pelaksanan pengeboran PT. EML (Energi Mineral Langgeng). Sekretaris Daerah, Drs. H. Moh. Saleh, M.Si, yang dalam kesempatan itu bertindak sebagai pimpinan rakor memberi arahan kepada peserta rakor, khususnya PT. EML agar sosialisasi kedepan dilakukan dengan mengakomodir keinginan masyarakat setempat, sehingga apa yang menjadi keluhan mereka dapat dipahami secara menyeluruh. H. Moh. Saleh juga berharap, agar sebagian masyarakat diajak ke Sapeken untuk melihat secara langsung pengeboran disana, sehingga menjadi paham betul segala proses pengeboran hingga pembuangan limbahnya. Supandi, salah satu Manajer Operasional PT. EML mengatakan, pihaknya sedang mengiventarisir zona-zona yang dianggap berbahaya, untuk nantinya diambil tindakan antisipasinya. Selain itu, ia berharap segera ada solusi yang baik, agar pengeboran dapat dilanjutnya kembali, karena kedalaman pengeboran hanya tinggal 1.000 fit lagi. Karena jika tidak, maka hanya ada dua pilihan yang dapat dilakukan, yaitu mengambil sikap lanjut atau keluar, akan tetapi langkah tersebut sangat tergantung dari keputusan Direktur Jenderal Minyak dan Gas (Dirjen Migas). ( Jhon, Esha )