Sumenep-Kominfo News Room : Pemerintah akan mengupayakan penambahan stok beras nasional, baik dengan cara peningkatan produksi maupun melalui kebijakan ekstra impor tahun 2007. Langkah itu untuk mengatasi kerapnya terjadi kelangkaan yang memicu lonjakan harga jual eceran beras di pasaran. "Idealnya stok beras nasional di Indonesia ini 3,5 juta ton," kata Menteri Pertanian (Mentan) Anton Apriyantono, Minggu (17/12) di Jakarta. Dari stok beras sebanyak itu, menurut Mentan, sekitar 2,5 juta ton untuk cadangan kebutuhan dan lainnya satu juta ton untuk aliran barang setiap bulan. Saat ini stok beras nasional tidak mencapai volume sebanyak itu. Selisih total produksi beras nasional dengan total konsumsi hanya 66.000 ton. Akibatnya, harga beras mudah dipermainkan pihak-pihak yang ingin menikmati keuntungan sendiri. "Kalau stoknya cukup, mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena pemerintah kapan saja siap memenuhi kebutuhan beras untuk menjaga kestabilan harga," ujarnya. Anton mengatakan, impor beras sebenarnya masih di bawah satu persen dari produksi. "Itu kecil," katanya. Data impor beras dari tahun ke tahun menunjukkan tren menurun. Sebelum tahun 2003 Indonesia bahkan pernah mengimpor beras 5 juta-6 juta ton. Tahun 2003 Indonesia mengimpor 1,4 juta ton, menurun menjadi 240.000 ton tahun 2004. Tahun 2005 sebanyak 176.000 ton dan tahun 2006 hanya 280.000 ton. Menurut angka ramalan ketiga Badan Pusat Statistik, produksi padi tahun 2006 mencapai 54,66 juta ton gabah kering giling, naik 0,95 persen dari tahun 2005. Tahun 2007, target produksi beras nasional, menurut Mentan, akan ditingkatkan menjadi 57,4 juta ton. Dengan merealisasikan kenaikan target produksi itu, stok beras nasional diharapkan bertambah sehingga bisa menekan impor beras hingga nol. Wakil Presiden Jusuf Kalla pun telah memberi sinyal dilakukannya impor beras jika harga terus meningkat di pasaran dan cadangan pemerintah terus menipis. Sebelumnya, berbagai kalangan mendesak pemerintah agar tidak mencabut larangan impor beras guna melindungi petani produsen padi dari jatuhnya harga. Tingginya harga telah merangsang petani meningkatkan produksi karena mereka mendapat insentif di tengah semakin meningkatnya biaya produksi. Pemerintah didesak untuk berupaya meningkatkan produksi padi dan produktivitas lahan. Sebaliknya, Bank Dunia justru merekomendasikan agar pemerintah mencabut larangan impor beras itu. Alasannya, langkah itu merupakan salah satu solusi tercepat mengatasi kemiskinan. Kenaikan harga beras yang mencapai 33 persen antara Februari 2005 dan Maret 2006 dituding sebagai penyebab meningkatnya jumlah orang miskin. Berbagai kalangan pun mengkritik rekomendasi Bank Dunia tersebut. Menurut Anton, sebenarnya harga beras yang selama ini berlaku relatif terjangkau masyarakat, termasuk petani. Dia mengakui tinggi rendahnya harga beras relatif, bergantung pada daerahnya. Untuk Pulau Jawa, kisaran harga beras idealnya Rp. 4.000,00 hingga Rp. 5.000,00. "Kalau sudah di atas harga itu harus dilakukan (untuk menurunkan harga) dalam bentuk operasi pasar," katanya. Terkait dengan stok beras di Bulog, Mentan sebelumnya menegaskan, pemerintah tidak akan mengumumkan. "Kami sudah kapok umumkan stok beras di Bulog. Jadi, stok akan dirahasiakan. Kita harus belajar dari India, China, Vietnam yang memiliki stok beras cukup besar. Kami sedang mencari cara bagaimana bisa memiliki stok yang cukup," katanya. Upaya mencapai target peningkatan produksi gabah pada tahun 2007 sebesar 5 persen dari 2006 antara lain menyediakan benih bermutu dan bersertifikat agar petani menanam benih unggul. Ada pula program khusus dengan bekerja sama dengan badan usaha milik negara. Caranya dengan menyediakan lahan, lalu memberikan modal, benih, dan pupuk, setelah panen gabahnya dibeli dengan harga memadai untuk cadangan pemerintah. Perbaikan irigasi dilakukan. Lainnya, memberikan kredit tanpa agunan kepada petani. "Masalah yang dihadapi sekarang adalah implementasi program untuk meningkatkan produksi gabah secara massal," kata Anton. ( KCM,Esha )