Media Center, Senin ( 12/06 ) Masih ingat dengan kompleks Pasarean Kangjeng Kai Adipati Semarang di area Asta Tinggi Sumenep ?. Beberapa waktu lalu Media Center pernah menurunkan tulisan mengenai penjaga Asta Tinggi yang mengabaikan wasiat utama Sultan Abdurrahman Pakunataningrat. Hingga kini pasarean tokoh penting di tanah Jawa dan Madura itu masih tetap lengang.
Padahal, dahulu, di jaman kuna dan beberapa periode setelahnya, pasarean tokoh bernama Kangjeng Kiai Adipati Ario Suroadimenggolo V ini menjadi salah satu jujukan utama para peziarah, khususnya keturunan keluarga Keraton Sumenep dinasti terakhir, maupun para peziarah dari tanah Jawa.
“Para peziarah sebelum ke kompleks utama di atas, biasa lebih dahulu mampir di Pasarean Kangjeng Kai. Hal itu sudah menjadi tradisi para sepuh,”kisah almarhum RP. Iskandar, beberapa tahun lampau.
Pernyataan Gus Is, panggilan Iskandar, banyak didengar pula dari beberapa pihak yang masih bertalian darah dengan penguasa Sumenep dinasti terakhir. Apalagi, setiap keluarga keraton saat ini pasti juga dialiri darah Kangjeng Kai Adipati Semarang.
“Setiap anak cucu Panembahan Sumolo, khususnya keturunan Sultan Abdurrahman juga otomatis keturunan Kanjeng Kai,”jelas salah satu pemerhati sejarah di Sumenep, RB. Moh. Muhlis, pada Media Center.
Ya, Sultan Sumenep memang menikah dengan salah satu putri Kangjeng Kai yang bernama Ratu Khadijah. Dari Ratu Khadijah ini lahirlah Ratu Afifah (Moncol), yaitu ibunya Raden Banjir (salah satu mantan Adipati Pamekasan); Panembahan Moh. Shaleh (pengganti Sultan Abdurrahman); dan Pangeran Kornel (Loteng, Pasar Sore).
Sosok Kangjeng Kai ini juga fenomenal. Dikenal sebagai penguasa kelas atas di tanah Jawa, dengan predikat Hoofd Regent atau Adipati Wadhono di kawasan Semarang. Predikat ini disandang oleh Adipati yang membawahi beberapa Kadipaten. Namun, sekaligus beliau juga dikenal sebagai musuh Belanda, sehingga posisi di daerah strategis bernama Semarang itu dianggap sebagai ancaman bagi VOC yang juga bermarkas di sana.
Apalagi, sosok yang di Semarang dikenal dengan nama Kangjeng Terboyo ini juga merupakan tokoh kharismatik di tanah Jawa. Mulai dari kalangan Belanda, Inggris (terutama Raffles yang banyak berguru dalam penulisan History of Java), hingga kalangan lokal memujinya sebagai cendekiawan, ahli sejarah dan budaya tanah Jawa, serta berpengetahuan luas di bidang agama. Beliau juga merupakan menantu Pangeran Sambernyawa alias KGPAA Mangkunegara I, penguasa Mangkunegaran yang ditakuti Belanda.
“Itulah sebabnya Belanda mencari cara untuk menurunkan Beliau yang di mata rakyat Semarang sangat diagungkan. Salah satu cara yang didapat ialah memfitnah anaknya, yaitu Raden Shaleh, dan selanjutnya dikaitkan dengan Pangeran Diponegoro,”kata Muhlis.
Kanjeng Kai dan putranya itu lantas ditangkap dan ditawan di kapal perang Pollux, lalu dibawa ke Surabaya, sebelum kemudian dibuang ke Ambon selama beberapa tahun. Baru sekitar akhir 1820-an, beliau bisa dipulangkan ke Sumenep atas usaha Sultan Sumenep. Tak lama di Sumenep, Kangjeng Kai mangkat. Jenazahnya dimakamkan di Asta Tinggi bagian luar dalam sebuah kubah bersama isterinya, Putri Mangkunegara I.
“Lalu Sultan berwasiat secara tertulis dan diriwayatkan turun-temurun, agar semua peziarah dianjurkan ke Pasarean Kangjeng Kai terlebih dulu,”ungkap Gus Muhlis.
Wasiat itu juga sempat ditulis di sebuah papan di luar kompleks Pasarean Asta Tinggi. Belakangan, papan itu berpindah ke dalam. Tak jelas kenapa, sehingga lambat-laun, wasiat penting itu diabaikan. Para penjaga Asta Tinggi, yang kebanyakan masih baru, tak ada yang memperhatikan tradisi kuna tersebut.
“Mestinya ada pengarahan dari pimpinan Asta Tinggi. Karena ini bagian dari sejarah yang tak boleh dilupakan,”tutup Gus Muhlis. ( M. Farhan, Esha )