Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 15-04-2006
  • 537 Kali

PARTAI ISLAM JANGAN MENJUAL BARANG USANG

Sumenep-Kominfo News Room : Rektor Universitas Negeri Syarief Hidayatullah Jakarta, Prof. Azyumardi Azra menilai Partai Islam tidak akan mendapat pendukung yang besar, jika tetap menjual Syariat Islam pada Pemilu. Pasalnya, Syariat Islam dianggap sebagai yang sudah dijual sejak lama, dan sudah dianggap usang. Apalagi, sejarah memperlihatkan meskipun masyarakat Indonesia merupakan warga yang religius, namun tidak pernah bisa menerima bentuk ekstrimitas. Hal ini disampaikan Azyumardi di Sepang, Malaysia seusai mengikuti sesi keempat dalam Seminar Tjdid Pemikiran Islam Kedua di Sepang, Malaysia, Jum’at (14/04) malam. “Partai Islam yang hanya menjual Syariat Islam, sama saja dengan membodohi ummat Islam, apalagi jika kemudian jualannya itu dianggap satu-satunya jalan untuk menyelesaikan masalah keumatan yang sangat kompleks�, ujarnya. Menurut Azyumardi, semangat kebangkitan Islam sejak awal tahun 1980-an di Indonesia, tidak seharusnya dikotori oleh wajah Islam yang penuh kekerasan. Pasalnya, kekerasan dalam bentuk apapun merupakan tindakan yang harus dicegah. “Wajah Islam di Indonesia, dan umumnya di Asia Tenggara merupakan wajah Islam yang damai�, ujarnya. Memang, Azyumardi mengakui, ada kelompok-kelompok kecil Islam radikal. Namun, kelompok semacam ini tidak akan mendapat tempat di masyarakat Islam di Asia Tenggara. Meskipun, kelompok radikal itu akan tetap ada. “Dan kelompok radikal ini tidak hanya milik Islam, di agama Kristen dan agama lainnya juga selalu ada kelompok radikal, meskipun mereka juga tidak dominan�, ujarnya. Pada saat yang sama, Direktur Eksekutif Center for Moderate Moslem, Tarmidzi Taher mengatakan, Islam Asia Tenggara umumnya menampilkan wajah yang lebih santun dibandingkan Islam di Timur Tengah. Keadaan ini, menjadikan Islam di Asia Tenggara mendapat kesempatan untuk memperlihatkan pada dunia, bahwa Islam merupakan ajaran damai, dan bisa diterapkan dalam masyarakat modern. “Dari pertemuan antara Ulama dan intelektual Islam Indonesia dan Malaysia, kita bisa mendapat gambaran, bahwa lebih banyak intelektual yang berfikiran maju dan moderat�, ujarnya. Menurut Tarmidzi, kemoderatan Islam di Malaysia dan Indonesia, seharusnya bisa disebarluaskan pada dunia. Melalui kemampuan yang dimiliki intelektual muslim yang ada, dapat disebarkan tulisan-tulisan yang bisa dibaca oleh dunia barat, bahwa Islam di Asia Tenggara secara kultural, berbeda dengan Islam di Timur Tengah. “Meskipun, orang-orang Arab seringkali mengklaim dirinya sebagai Islam yang benar, padahal banyak juga di antara mereka yang berpikiran sempit�, ujarnya. ( KCM, Esha )