Sumenep, News Room ( 01/04 ) Perbedaan Padi non Hibrida dan Hibrida sangat siginifikan, hal tersebut dikarenakan hasil produksi padi Hibrida bisa mencapai 2 kali lipat dari padi non hibrida. Biasanya padi non hibrida dalam 1 hektare hanya dapat menghasilkan 3.6 ton sedangkan untuk padi Hibrida bisa mencapai 9 ton dalam setiap hektarnya. Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Sumenep yang diwakili oleh Kepala Bidang Agrobisnis Khusnor Rofik dalam sambutanya dalam acara Panen Raya Rabu hari ini (02/04) yang dipusatkam di Desa Soddara Kecamatan Pasongsongan. Selanjutnya menurut Khusnor Rofik kenyataan semacam itu, dapat dibuktikan sebagaimana yang telah dilakukan oleh masyarakat petani di Desa Soddara Kecamatan Pasongsongan, yang semula hanya dapat menghasilkan 4 hingga 5 ton per-hektar, tetapi pada panen raya kali ini bisa mencapai hasil ± 7 hingga 8 ton per-hektar. Sehingga dengan kondisi semacam itu akan lebih meningkatkan produktifitas yang tentunya bisa mencukupi terhadap kebutuhan penduduk desa dan nantinya tidak harus tergantung pada hasil produksi tembakau semata. Dalam kesempatan yang sama Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Sumenep Unais Ali Hisyam menyambut positif dangan program swasembada pangan, sebab hal ini dapat membantu petani itu sendiri. oleh karena itu Unais mengharap pemerintah dapat mensubsidi bibit padi Hibrida yang harganya lebih mahal dari bibit padi non Hibrida. Pada kesempatan itu, Camat Pasongsongan, Drs. RM. Fatah Effendi mengatakan, bahwa dengan adanya kegiatan Panen raya ini, hendaknya masyarakat Kecamatan Pasongsongan khususnya Desa Soddara dapat termotivasi dengan kegiatan itu, sehingga masyarakat bisa menganbil tanaman alternativ disamping tanaman tembakau yang selama ini menjadi tanaman primadonan masyarakat Madura pada umumnya. ( Jup-10, Soek )