News Room, Rabu ( 02/12 ) Selama 2 bulan berturut-turut, yakni Oktober dan Nopember 2015, inflasi Sumenep tertinggi di Jawa Timur. Pada Oktober lalu, inflasi Sumenep sebesar 0,15 persen, dan pada bulan Nopember inflasi mencapai 0,30 persen. Laju inflasi Sumenep melampaui Jawa Timur yang hanya 0,06 persen dan nasional sebesar 0,21 persen.
"Dari 8 kota IHK di Jatim, inflasi tertinggi dialami Sumenep sebesar 0,30 persen, diikuti Jember 0,26 persen, Madiun 0,21 persen, Malang 0,16 persen, Kediri 0,11 persen, Banyuwangi 0,08 persen, dan Probolinggo sebesar 0,05 persen. Sedangkan terendah dan justru mengalami deflasi, terjadi di Surabaya, yakni sebesar -0,02 persen,"kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumenep, Suparno, Rabu (02/12).
Ia menuturkan, komoditas yang memberikan andil terbesar terjadinya inflasi di bulan Nopember adalah daging ayam ras, daging sapi, cumi-cumi, beras, bawang merah, bayam, batu bata/batu tela, telur ayam ras, ketimun, dan udang basah.
"Dari 7 kelompok pengeluaran, 4 kelompok mengalami inflasi, dan 3 kelompok terjadi deflasi,"terangnya.
Suparno mengungkapkan, kelompok pengeluaran yang mengalami inflasi adalah kelompok bahan makanan sebesar 1,29 persen, makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau 0,02 persen, perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 0,28 persen, dan kelompok kesehatan sebesar 0,01 persen.
"Sedangkan kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi adalah kelompok sandang sebesar 0,87 persen, pendidikan, rekreasi, dan olahraga 0,17 persen, serta kelompok transport, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,01 persen,"ungkapnya.
Tingkat inflasi tahun kalender (Januari-Nopember 2015) Sumenep sebesar 1,83 persen, Jawa Timur 2,22 persen, dan nasional sebesar 2,37 persen.
"Untuk tingkat inflasi tahun ke tahun (Nopember 2015 terhadap Nopember 2014) Sumenep sebesar 4,48 persen, Jawa Timur 4,65 persen, dan nasional sebesar 4,89 persen,"pungkasnya. ( Nita, Esha )