News Room, Sabtu ( 23/08 ) Hingga saat ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Cabang Sumenep belum menentukan jatuhnya 1 Ramadhan. Sebab, masih menunggu sidang Isbath yang sebelumnya akan dilakukan ru’yah hilal dan hisab. Untuk tahun ini, penetapan 1 Ramadhan diprediksi sangat kecil terjadi perbedaan. Sebab, keputusan penetapannya akan dilakukan setelah ada hasil dari ru’yah dan hisab. “Dimungkinkan, penetapan 1 Ramadhan akan sama di semua kalangan,â€Âkata Ketua MUI Sumenep, Drs. KH. Moh. Safraji, di kediamannya jalan KH. Zainal Arifin, Terate Sumenep, Sabtu (23/08). Ia menjelaskan, sidang Isbath itu, memang ditujukan untuk menentukan tentang jatuhnya 1 Ramadhan. Nantinya hasil hisab dengan ru’yah akan dipadukan dalam pelaksanaan sidang Isbath. “Kalau memang hasil Tim Ru’yah menyatakan bulan sudah bisa dilihat, maka sudah bisa dipastikan itu 1 Ramadhan,â€Âterangnya. Sedangkan bagi kelompok yang biasa kontroversi dengan pemerintah mengenai penetapan 1 Ramadhan, MUI mempersilahkan kepada yang bersangkutan untuk melaksanakan keyakinannya itu. Sebab, kelompok itu sudah mempunyai dasar sendiri, sebagai penentu 1 Ramadhan. Namun, pihaknya meminta, agar tidak mengganggu keputusan pemerintah. “Itu wajar-wajar saja, tiap orang memiliki keyakinan yang patut dihargai,â€Âkatanya. Meski diperkirakan kecil perbedaan penetapan 1 Ramadhan ini, MUI tetap menghimbau kepada masyarakat Sumenep, supaya menunggu keputusan pemerintah dalam menentukan jatuhnya 1 Ramadhan. “Keputusan pemerintah itu berdasarkan hasil ru’yah dan hisab, yang dipadukan dalam sidang Isbath,â€Âujarnya. ( Nita, Esha )