News Room, Senin (17/03) MH Said Abdullah, Anggota DPR RI Dapil Jatim XI Madura, Minggu kemarin (16/03) menyantuni keluarga Sumaryono (26 tahun) dan Irwan (16 tahun), warga Dusun Palegin, Desa Longos, Kecamatan Gapura, yang menderita kelumpuhan sejak lahir. Selama puluhan tahun, 2 bocah yang tinggal bersama kakek dan neneknya, Abdurrahman dan Misnati, karena ditinggal mati oleh ibunya ketika berusia 10 tahunan, sedangkan bapaknya menikah lagi. Mereka belum pernah mendapat bantuan dari pemerintah, baik raskin maupun jamkesmas. Karena tidak masuk dalam data. Perawatan bagi keduanya dilakukan ala kadarnya. Menurut Said Abdullah, tidak masuknya keluarga ini ke dalam pendataan untuk bantuan dari pemerintah adalah keteledoran petugas dibawah. "Ini adalah kesalahan data. Kalau pendataan dilakukan secara door to door, kita yakin keluarga yang hidup dibawah garis kemiskinan akan tercover seluruhnya," tandasnya. Ia menegaskan, bahwa data soal rakyat miskin di Indonesia masih amburadul. Buktinya, keluarga ini tidak masuk data pemerintah. Bantuan pun tidak ada. "Tolonglah kalo pendataan itu yang benar, harus ada skala prioritas. Kumpulkan masyarakat yang masuk kategori miskin, lalu dipilah. Data tersebut kirim ke pusat, atau kasihkan ke saya. Saya yang akan memperjuangkannya, karena dana itu ada di pusat,"terangnya. Dana untuk warga miskin itu banyak di pusat, hanya saja terbuang membayar konsultan tiap tahunnya Rp. 300 milyaran. "Untuk apa pemerintah tiap tahun membuang-buang anggaran senilai Rp. 300 miliyar membayar konsultan, dalam hal memperbaharui data warga miskin. Toh kenyataannya warga miskin dan anak kurang gizi masih tinggi,"ungkapnya. Said yang kembali mencalonkan diri pada Pemilu Legislatif (Pileg) 2014 sebagai Caleg DPR RI Dapil XI Madura ini mengaku terenyuh dengan kondisi dua kakak-beradik tersebut. “Kebetulan saat ini adalah masa reses anggota DPR RI. Jadi saya bersama istri, Khalida Ayu Winarti, menyempatkan diri untuk menengok mereka. Kondisi sangat memprihatinkan, mereka hidup penuh keterbatasan. Nenek dan kakeknya tersebut berupaya membesarkan dua cucunya (kakak-beradik) dengan kondisi lumpuh selama 26 dan 16 tahun. Bagi saya ini sangat miris sekali,”pungkasnya. Said mengaku bahwa bantuan uang tunai senilai Rp. 10 juta belum apa-apa dibandingkan keringat nenek dan kakek tersebut dalam membesarkan 2 cucunya yang lumpuh itu. "Saya sangat salut pada mereka. Meski tidak pernah mendapat bantuan dari pemerintah, tapi mereka tetap gigih berjuang membesarkan kedua cucunya yang mengalami kelumpuhan dan keterbelakangan mental tersebut,"tuturnya. ( Nita, Esha )