Sumenep-Infokom News Room : Hasil kunjungan Tim Terpadu Penangulan Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (TTPK-BBM) pada hari ke 3 di SPBU Ambunten kurang memuaskan, pasalnya di SPBU itu masih banyak ditemukan jerigen, baik di pengisian premium maupun solar. Penyebabnya, SPDN yang ada di Kecamatan Pasongsongan tidak dapat melayani masyarakat. Demikian ditegaskan Waka Polres Sumenep Komisaris Polisi, Sudaryanto seusai operasi mendadak (Sidak) di SPBU Ambunten dan Pamolokan, Jum’at (30/09). Namun demikian, karena masyarakat sekitar SPBU kehidupannya melaut, pihak SPBU masih memberikan toleransi bagi masyarakat nelayan untuk membeli Solar, hanya saja untuk mendapatkan solar dan sebagai control pembelian BBM, masyarakat harus memiliki surat dari Kepala Desa atau Muspika. Menjelang rencana kenaikan BBM terhitung pukul 00.00 WIB, Sabtu (01/10) untuk menjaga keamanan dan ketertiban masing-masing SPBU, sedikitnya ditempatkan petugas gabungan yang meliputi 4 petugas dari Polres Sumenep, 1 petugas dari Koramil, 1 petugas Satpol PP dan 1 petugas dari Dinas Perhubungan. Bahkan untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan, menurut Komisaris Polisi, Sudaryanto yang juga selaku Ketua Tim Terpadu Penanggulangan dan Kelangkaan BBM, Polres Sumenep telah menyiapkan satu peleton pasukannya di Mako. Sedangkan antisipasi keamanan SPBU yang berada diluar perkotaan, sepenuhnya diserahkan kepada Kapolsek masing-masing daerah, akan tetapi dimasing-masing SPBU itu, Polres Sumenep sudah menempatkan petugasnya, sehingga jika terjadi sesuatu dapat langsung melakukan kontak ke Polres untuk mendapatkan bantuan. ( Yasik, Esha ) ----------oooOooo---------- KEMAMPUAN PENGETAHUAN UMUM SEBAGIAN BESAR PESERTA KACONG TOR CEBBING MASIH KURANG Sumenep-Infokom News Room : Ketua Dewan Juri Pemilihan Kacong Tor Cebbing Sumenep 2005, Drs. Sutrisno mengakui, sebagian besar peserta Kacong Tor Cebbing Sumenep tahun ini kurang memiliki kemampuan pengetahuan umum. Padahal testing pengetahuan umum tentang Kepariwisataan, Bahasa Inggris dan Bahasa Madura melalui wawancara itu merupakan salah satu test yang sangat penting dalam mentukan Duta Wisata Daerah. Buktinya, dari 37 peserta tingkat anak-anak dan 22 peserta tingkat remaja, sekitar 70 prosen masih memerlukan pembinaan untuk meningkatkan pengetahuan umumnya. Namun demikian, dalam penilian itu, Dewan Juri tetap bersikap objektif. Untuk itu Sutrisno berharap peserta Kacong Tor Cebbing untuk tidak resah dengan penilaian Dewan Juri, sebab selain Dewan Juri itu berasal dari luar daerah, pemilihan Kacong Tor Cebbing ini bukan salah satu event memilih peserta yang hanya bagus dari segi fisik saja, melainkan untuk memilih Duta Wisata Daerah yang benar-benar professional. Artinya, mereka yang memiliki kemampuan dan keahlian dibidang kepariwisataan dan kebudayaan daerah. ( Yasik, Esha )