News Room, Rabu ( 29/04 ) Bagi siswa-siswi atau generasi muda Madura, khususnya Sumenep, budaya Tembang Macapat sudah tidak lagi populer. Padahal, di periode awal kemunculannya, tembang macapat merupakan kesenian yang sangat penting. Karena melalui kesenian inilah para ulama tempo dulu, terutama di jaman Wali Songo, agama Islam bisa melebarkan sayapnya.
“Jadi, dulu memang salah satu media para wali untuk menyebarkan agama Islam. Seperti Sunan Kalijaga dengan tembang Artate-nya. Sunan Giri dengan tembang Kasmaran dan Pucungnya. Sunan Kudus dengan tembang Mejil dan Maskumambang-nya. Dan lainnya,”kata Rabiatul Adawiyah, S.Pd, salah seorang pemerhati budaya Tembang Macapat di Sumenep, pada News Room.
Saat ini budaya Tembang Macapat, menurut guru Matematika SMP Negri 1 Saronggi yang mendapat tugas tambahan mengajar Bahasa Daerah ini, sudah sering terlewati. Meski dicantumkan dalam buku pegangan pelajaran Bahasa Madura, terkadang bagian Tembang Macapat seringkali dilompati.
“Yang lihat memang seperti itu. Entah apa karena kurang diminati, sehingga tak dianggap penting. Atau mungkin karena memang sulitnya literatur yang ada mengenai budaya ini,”tambahnya.
Oleh karena itu Rabiatul berharap, agar budaya peninggalan para wali ini terus lestari. Ia bahkan saat ini mengajak siswa-siswinya untuk mengumpulkan naskah mengenai Tembang Macapat.
“Ternyata para siswa antusias. Kami hanya ingin mengajak anak-anak itu menggali tradisi daerahnya yang saat ini sudah mulai terkubur, sekaligus memungut budaya Madura yang berserakan dan berceceran akibat perubahan jaman,”pungkasnya. ( Farhan, Esha )