Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 15-08-2016
  • 1989 Kali

Mengenang Peristiwa Clash Antara Tahun 1947-1948

News Room, Selasa ( 16/08 ) Belanda tak puas menjajah sekitar tiga abad lamanya. Bangsa berkulit putih dari negeri Wilhelmina itu masih ingin menancapkan kukunya di tubuh Pertiwi. Proklamasi 17 Agustus, Tujuh Puluh Satu tahun silam kembali dirongrong. 

1947 merupakan awal pergolakan pasca pengukuhan kedaulatan RI. Peristiwa yang selanjutnya dikenal sebagai Clash itu merupakan saat-saat sulit bagi bayi Indonesia yang baru lahir. Rakyat tak tinggal diam. Bahu-membahu antara prajurit TNI, Ulama, kalangan jawara, santri, dan segenap lapisan rakyat Indonesia menghasilkan "upah" berupa hengkangnya Belanda dari Bumi Nusantara ini. 

Upah yang ditebus tak hanya dengan keringat dan air mata, tapi darah dan nanah. Sumenep, atau Madura pada umumnya menjadi bagian yang tak bisa dipisahkan dari perjuangan mempertahankan kedaulatan. 

Beberapa putra terbaik Sumenep mengakhiri hidupnya di ujung bedil kaum kafir itu. Peristiwa Kamal Bangkalan, peristiwa masjid Syuhada Pamekasan, lapangan Kemisan Guluk-guluk menjadi bukti bahwa perjuangan warga Madura tak setengah hati. Peristiwa-peristiwa itu telah merenggut perisai bangsa ini, meski satu perisai berganti ribuan perisai. 

"Saat itu, seperti yang pernah diceritakan bapak saya, para pejuang kita tidak peduli dengan nyawanya. Prinsip mereka seirama. Baik pimpinan atau anak buah, sama-sama di garda depan. Seolah tak takut mati,"kata R. Mohammad Mangkuadiningrat, salah satu putra Mayor RA. Mangkuadiningrat, komandan resimen Jokotole Pamekasan dalam peristiwa clash. 

Harus diakui, perjuangan di Sumenep agak berbeda. Persiapan sekaligus sarana prasarana (sarpras) sangat tak memadai. Kantong-kantong perlawanan tidak banyak. Kekuatan agak terpusat, akibat kurangnya persenjataan. 

"Sistemnya gerilya. Apalagi Belanda licik. Lewat radio misalnya, mereka memecah-belah kekuatan,"kata Mohammad. Bahkan Madura, khususnya Sumenep sempat dijatuhkan.

Sejumlah pucuk pimpinan ditangkap dan ada yang dieksekusi. Sampai akhirnya arah angin berubah. Perundingan pun menjadi pilihan utama. Di Madura ditandai dengan diturunkannya bendera Merah Putih Biru dan balik dikibarnya Sang Saka. 

"Kejadian itu di Pamekasan. Perundingan berlangsung kurang 10 menit. Mayor D. Swemel dan bapak saya dari pihak RI. Hasilnya jelas, Belanda hengkang mulai dari Sabang sampai Merauke,"tutup Mohammad. ( Farhan, Esha )