Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 27-08-2007
  • 602 Kali

Membangun Madura, Jangan Cederai Masyarakat Madura

Sumenep-Kominfo News Room : Mantan Gubernur Jatim, RP. H. Mohammad Noer selaku sesepuh masyarakat Madura pada acara Musyawarah Besar (Mubes) III Masyarakat Madura se Indonesia di Hotel JW Marriot Surabaya, Minggu (26/08) mengatakan, jangan sampai pembangunan di Madura justru akan melukai hati orang Madura yang notabene adalah orang-orang yang fanatik dan teguh dalam menjalankan syariat Islam. “Kami ingin Madura dibangun dengan kerangka NKRI dan tanpa mencederai hati orang Islam,” tegasnya. Kekhawatiran ini muncul karena banyak pembangunan justru membuat masyarakat asli di daerah pembangunan itu tetap miskin dan yang lebih parah lagi norma agama diabaikan. “Ini yang tidak diinginkan masyarakat Madura,” ujarnya. H. Mohammad Noer yang juga merupakan Konseptor Jembatan Suramadu ini mengatakan, rencana pembuatan jembatan yang menghubungkan Surabaya dan Pulau Madura ini muncul waktu dirinya masih menjabat sebagai Gubernur Jatim. Saat itu, ada tiga rencana pemerintah untuk membuat jembatan yang menghubungkan Pulau Jawa dengan pulau lainnya, yakni dengan Sumatera, Bali dan Madura. Khusus untuk jembatan yang menghubungkan Pulau Jawa dengan Pulau Madura, tidak ada kendala. Dari segi teknis, tidak ada faktor alam yang menghambat adanya jembatan, dan dari sisi ekonomis, justru ini sangat membantu kelancaran eksplorasi potensi alam yang terkandung di Pulau Madura. “Semua itu hanya menunggu kemauan dari semua pihak untuk benar-benar mewujudkan Madura sebagai daerah yang diminati investor,” ujarnya. Sekretaris Daerah Propinsi Jawa Timur, Dr. H. Soekarwo, SH mengatakan, pemerintah sangat setuju dan mendukung sekali rencana pembentukan Madura sebagai Propinsi sendiri. Ia berpesan, agar masyarakat Madura tidak gegabah dalam mengambil keputusan, setidaknya ada dua hal yang harus diperhatikan, yakni syarat administrasi sebuah Propinsi dan upaya peningkatan Indeks Pendapatan Masyarakat (IPM) di Madura yang sangat rendah. Untuk peningkatan IPM, harus ada konsep yang benar-benar matang untuk bisa membuat IPM masyarakat di Madura tinggi. Tentunya itu bisa diwujudkan setelah akses sarana prasarana transportasi yang menghubungkan Madura dengan daerah lain tersedia yakni jembatan Suramadu dan bandara udara. “Jangan sampai setelah menjadi Propinsi sendiri, karena sarana transportasi di Madura belum ada, malah membuat Madura terjebak dengan pembiayaan potensi alam dan sumber daya manusia (SDM) yang justru akan mengikat masyarakat madura untuk tergantung terhadap investor,” ujarnya. Ketua Forum Komunikasi Masyarakat Madura (FKMM), Jenderal Polisi (Purn), Drs. H. Roesmanhadi menambahkan, sejarah perubahan ekonomi Madura tidak jauh dengan perekonomian di Jepang, yang pernah menjadi negara tertinggal karena dia menutup diri dari dunia luar. Tapi ketika Jepang membuka diri, pembangunan begitu pesat dan perubahan drastis dan menjadi salah satu negara Asia yang maju pesat industrinya. Begitupun dengan Pulau Madura yang selama ini menutup diri dan akan membuka diri dengan tanpa mengesampingkan nilai agama. Dia yakin Madura akan menjadi kawasan industri yang diminati investor. “Banyak kandungan alam yang belum tergali dan dikelola serta dimanfaatkan,” ujarnya. Sebagai masyarakat yang mayoritas memeluk Islam, syarat secara Islam mutlak harus tetap dipakai dalam membuat konsep membangun Pulau Madura, dalam kerangka NKRI di segala bidang. Upaya pemerintah dalam membuatkan akses transportasi berupa Suramadu sudah berjalan dan perlu dukungan dari semua pihak untuk segera menyelesaikannya. “Insya Allah dengan dukungan semua pihak, terutama masyarakat Madura sendiri dan investor, jembatan ini akan selesai 2008,” ujarnya ( JNR, Esha )