Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 20-01-2010
  • 2285 Kali

Makam Meledak Di Komplek Pemakaman Asta Tinggi

News Room, Rabu ( 20/01 ) Salah satu makam di kawasan pemakaman Raja-Raja Sumenep, Asta Tinggi, di Desa Kebunagung, Kecamatan Kota Sumenep, yang merupakan keturunan raja ke 13 dari salah satu Raja Sumenep, yakni Pakunataningrat, yang memerintah tahun 1879-1901 meledak, pada Selasa (19/01) malam, sekitar pukul 22.30 WIB. Bunyi ledakan makam almarhuma Hj. R. Ajeng Salmah binti kiyai RB. Abdul Latif terdengar hingga Desa Kasengan, Kecamatan Manding, yang berjarak sekitar 1 kilometer. Salah seorang karyawan penjaga Asta Tinggi, Slamet Riadi (56), mengaku ledakan ini kategori ghaib. “Ledakan ini termasuk ghaib, karena baru pertama kali terjadi. Sebelum meledak tidak ada pertanda, tapi biasanya setelah ini mungkin ada sesuatu,” terang Slamet, kepada wartawan di lokasi, Rabu (20/01). Ia menjelaskan, pihaknya bersama warga mengaku, semula ledakan itu diperkirakan dari petasan yang dibuat masyarakat. Ternyata tidak ada hal yang mencurigakan. “Sesaat setelah kejadian, warga Desa Kasengan langsung mendatangi Asta Tinggi, guna mengetahui asal-usul bunyi ledakan,” katanya. Semasa hidupnya, katanya, almarhumah Salmah dikenal sebagai guru ngaji. “Hingga sekarang banyak warga yang datang untuk melihat makam tersebut,” ungkapnya menambahkan. Makam yang meledak itu, Hj. R. Ajeng Salmah tercatat lahir di Sumenep pada tanggal 05 Mei 1941 dan wafat di Surabaya pada 21 Oktober 2001. Sementara, menurut tokoh ulama di Sumenep yang juga Pengasuh Ponpes Al-Karawiyah, Kecamatan Ganding, KH. Fayyad As'ad, kejadian ini merupakan pertanda yang harus diwaspadai semua pihak. “Semua pihak harus waspada, karena efek tanda-tanda itu negatif. Baik yang berhubungan dengan kondisi cuaca saat ini maupun menjelang pelaksanaan Pilkada pada Juni 2010 mendatang, serta terhadap keturunan para Raja di Sumenep sendiri,” ujarnya. Namun, pihaknya meminta kekhawatiran tersebut tidak perlu dibesar-besarkan karena kepastian kejadian itu tidak bisa diartikan secara manusiawi, itu rahasia Ilahi. ( Nita, Esha )