News Room, Selasa ( 28/06 ) Keberadaan makam Pangeran Diponegoro yang diyakini warga Sumenep ada di belakang Asta Tinggi, selama ramadhan ramai peziarah. Terutama di waktu malam bakda tarawih.
"Apalagi sekarang ada pintu yang dibuat dari dalam kawasan Asta Tinggi, Gus,"kata Lamri, salah satu peziarah makam Diponegoro, pada Media Center.
Selama ini untuk sampai ke pasarean Diponegoro memang melewati luar pagar Asta Tinggi, sehingga agak menyusahkan, terutama di malam hari. Hal itu dikarenakan medan yang dilalui sekaligus tidak adanya penerangan jika di luar.
"Ke luar mercury-nya tidak bisa menjangkau,"kata Lamri, menunjuk lampu penerangan di sekeliling asta.
Rata-rata peziarah memang asli Sumenep. Tak hanya di kawasan kota, tapi dari pelosok-pelosok desa.
Kalau yang kebetulan dari luar Sumenep dikarenakan tertarik setelah mendengar cerita, dan menyempatkan diri nyekar ke pasarean Diponegoro.
Makam Diponegoro mulai ramai dibincang sejak dekade 80-an ditemukan batu nisan bertuliskan Abdul Hamid Ontowirio Pangeran Diponegoro atau Sultan Herucakro Sayyidin Panatagomo. Namun, karena bertolak belakang dengan sejarah versi pemerintah pusat, hingga saat ini tidak ada perkembangan lebih lanjut.
"Padahal nisannya dibawa oleh pemerintah ke Jakarta untuk diteliti,"kata RB. M. Muhlis, salah satu keluarga Keraton Sumenep.
Dalam sejarah maupun babad Sumenep, setelah ditangkap yang berakibat usainya perang Jawa, Pangeran Diponegoro memang dibawa ke Sumenep. Beliau malah sempat berbesanan dengan Sultan Sumenep, Abdurrahman.
"Menurut cerita kuna, yang dibawa ke Makassar itu orang lain yang diserupakan Diponegoro,"kata RB. Deny Fahrurrazi, salah satu keluarga keraton lainnya. ( Farhan, Esha )