Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 22-03-2012
  • 516 Kali

Mahasiswa Unija Sumenep Tuntut Rektor Turun, Ricuh

News Room, Kamis ( 22/03 ) Sekitar 150 mahasiswa Universitas Wiraraja (Unija) Sumenep yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Unija Menggugat (AMUG), Kamis (22/03) pagi berunjuk rasa didalam kampus, menuntut Rektor setempat, Alwiyah, turun dari jabatannya, berlangsung ricuh. Bahkan Satpam Unija nyaris digebuki mahasiswa, ketika berupaya menghalangi mahasiswa yang akan menempeli mobil Rektor dengan poster-poster. Korlap Ahmad Zainollah menjelaskan, aksi ini sebagai bentuk kekecewaan terhadap kebijakan Rektor Unija yang sudah diluar esensi fundamentalisasi pendidikan, seperti kunjungan ke luar kota, beli mobil mewah, dan pengetatan (sistem) pembayaran kuliah. Sedangkan fasilitas kampus, seperti perpustakaan tidak pernah berubah, dan organisasi kemahasiswaan carut marut. “Kami menuntut Rektor mundur, karena Rektor anti kritik dan mengancam akan mengeluarkan mahasiswa yang berani berunjuk rasa. Selain itu, Zainollah menuding Rektor hanya mementingkan kepentingan pribadi. Terbukti, tidak ada penambahan fasilitas pendidikan, namun justru membeli mobil mewah seharga Rp. 220 juta. “Kenapa rektor justru membeli mobil mewah hingga ratusan juta, tanpa menambah fasilitas di kampus. Padahal di brosur mahasiswa baru, tertulis sejumlah fasilitas lengkap. Ini merupakan pembohongan publik. Makanya kami menuntut Rektor turun,”terangnya. Aksi terus dilakukan, meski Rektor Unija, Alwiyah keluar menemui mahasiswa. Karena, mereka menolak dan mengaku tidak perlu berdialog dengan Rektor. “Kami tidak perlu dialog dengan Rektor. Yang kami perlukan hanya pernyataan, Rektor siap turun dari jabatannya,”tegas Zainollah. Sementara, Rektor Universitas Wiraraja (Unija) Sumenep, Alwiyah, menilai tuntutan mahasiswa tidak berdasar dan salah alamat. “Saya ini jadi Rektor kan tidak mengangkat diri saya sendiri. Tapi saya diangkat oleh Yayasan. Makanya kalau menuntut saya turun, silahkan ke Yayasan, jangan ke saya,”ungkapnya. Alwiyah mengungkapkan, terkait kunjungan kerjanya itu bertujuan memajukan akademik, bukan jalan-jalan, salah besar. "Saya melakukan studi banding ke beberapa Universitas, tidak sendiri, tapi bersama Kepala Biro, dan pihak-pihak lain. Tujuannya apa, tentu saja untuk menjalin kerjasama. Bukan jalan-jalan,”ujarnya. Sedangkan terkait surat pernyataan agar mahasiswa tidak melakukan pergerakan massa dan terancam di DO (drop out), Alwiyah mengatakan, surat tersebut sudah diberlakukan sejak tahun 2009 untuk semua mahasiswa. “Jadi bukan hanya untuk mahasiswa Ilmu Kesehatan, tapi untuk semuanya. Dan yang tidak boleh itu aksi yang anarkis. Saya kira kampus manapun pasti tidak mengijinkan kalau ada aksi anarkis,”pungkasnya. ( Nita, Esha )