News Room, Jum’at ( 28/08 ) Sebanyak 15 mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Sumenep, terdiri dari mahasiswa Universitas Wiraraja dan Komisariat STKIP PGRI serta STITA Terate Sumenep, menggelar aksi yang terlihat aneh, dengan dikemas melakukan upacara bendera setengah tiang di depan Gedung DPRD setempat, Jumat (28/08) pagi. Dalam aksi tersebut, mahasiswa juga melakukan penghormatan pada merah putih dengan tangan kiri, dan dilanjutkan dengan pembacaan Pancasila oleh salah satu mahasiswa yang isinya bukan teks Pancasila melainkan bernuansa melecehkan. Isi teks Pancasila tersebut berjudul Pate' Gila (Anjing Gila). Sedangkan isi dari plesetan Pancasila tersebut yakni, 1. Ketuhanan yang bermunafik dan syirik 2. Kemanusiaan yang tidak adil dan biadab 3. Persatuan yang pecah belah 4. Kekuasaan yang dipimpin oleh penghianat dan pengecut 5. Keadilan bagi seluruh kaum kapitalis Usai pembacaan teks Pancasila versi mahasiswa, dilanjutkan dengan amanat pembina upacara yang isinya merupakan desakan kepada anggota DPRD periode 2009-2014, supaya melaporkan kekayaannya. Pembina upacara Mohammad Rusdi mengatakan, sudah selayaknya anggota DPRD Sumenep 5 tahun kedepan melaporkan kekayaannya. “Itu sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 28 tahun 1999, tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Kolusi, Korupsi dan Nepotisme (KKN),†kata Rusdi dalam amanatnya di depan Gedung DPRD Sumenep, jalan Trunojoyo, Jumat (28/08). Bahkan, pihaknya juga meminta kepada setiap partai politik hendaknya menempatkan kadernya sesuai dengan kemampuannya, agar bisa melakukan perubahan yang signifikan untuk masyarakat Sumenep. Selama menggelar aksi hingga para aktivis tersebut membubarkan diri, pihak petugas keamanan, baik dari kepolisian maupun intel dari Kodim 0827 Sumenep tidak melakukan tindakan apapun. Namun salah seorang intel Polres Sumenep yang enggan disebutkan identitasnya mengatakan, sikap mahasiswa dengan hormat pada bendara merah putih dengan menggunakan tangan kiri dan pembacaan Pancasila yang diplesetkan tersebut tidak pantas dilakukan seorang mahasiswa. “Semestinya ada tindakan tegas. Tapi, berhubung saya tidak mendapat perintah dari pimpinan, ya saya hanya bisa melihat dan mendengarkan saja,â€Âtegasnya. ( Nita, Esha )