News Room, Rabu ( 08/04 ) Kabupaten Sumenep menjadi tempat Lawatan Sejarah Pelestarian Budaya yang dilaksanakan Balai Pelestarian Nilai Budaya Yogyakarta sejak tanggal 7 hingga 10 April 2015.
Dalam kegiatan lawatan sejarah tersebut selain diikuti peserta dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), juga diikuti peserta dari perwakilan Jawa Barat dan Jawa Timur.
Kepala Balai Pelestaran Nilai Budaya Yogyakarta, Dra. Kristiati Ariadi, M.Hum saat menyampaikan sambutannya di Pendopo Agung Kraton Sumenep, Selasa (08/04) mengungkapkan, jika kegiatan lawatan sejarah tersebut sebagai wahana pembentukan karakter bangsa. Dan menjadi kegiatan unggulan Balai Pelestari Nilai Budaya dalam 10 tahun ini.
“Kegiatan ini dalam rangka melakukan kunjugan ke obyek sejarah yang ada di daerah, untuk mengetahui peristiwa masa lampau,”ungkapnya.
Dijelaskan, dari hasil kegiatan lawatan sejarah tersebut, nantinya bisa menjadi pedoman untuk dikontrusikan kembali dan dapat diimplementasikan, dan diapresi dari nilai yang terkandung didalamnya. Serta dapat menjadi pedoman dan penanaman nilai sejarah bagi para generasi muda dalam memahami dan mengerti tentang sejarah yang ada.
Sedangkan peserta lawatan sejarah diikuti sebanyak 75 orang, masing-masing dari DIY, Jawa Tengah, dan Jawa Timur sebanyak 25 orang, dari unsur siswa SMA, Guru serta pendamping dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata masing-masing daerah.
Dan nantinya akan dipilih 6 siswa dan 3 guru terbaik untuk diikutkan dalam lawatan sejarah tingkat nasional di Ibu Kota Jawa Barat akhir bulan Mei mendatang.
”Untuk kunjungan di Kabupaten Sumenep, kami akan mengunjungi, Kraton Sumenep, Museum, Masjid Jamik, Asta Tinggi, Obyek Wisata yang ada di Kalianget, mengunjungi sentra batik di Pekandangan, serta akan nonton kerapan sapi,”tambahnya.
Sementara Staf Ahli Bupati Sumenep Bidang Pembangunan, Drs. H. Ahmad Fauzi, MM, menyampaikan selamat datang di Kabupaten Sumenep kepada para peserta lawatan sejarah tersebut, sehingga bisa lebih mengenal dan mengetahui lebih jauh tentang sejarah, khususnya di Kabupaten Sumenep.
“Seperti halnya keberadaan Kraton Sumenep yang sudah berusia sekitar 200 tahun yang beraksitektur Eropa, Arab, dan China dengan lekuk ukiran yang mempesona, serta berbagai peninggalan yang ada di Sumenep,”ungkapnya. ( Ren, Esha )