Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 28-03-2016
  • 566 Kali

Laut Kini, Dan Keluh Kesah Anak-Anak Pulau

News Room, Selasa ( 29/03 ) Laut bagi warga kepulauan di Sumenep merupakan kampung halaman ke dua. Bahkan, laut adalah denyut nadi mereka. Betapa tidak, hampir setiap sendi kehidupan di sana, berbicara tentang laut.“Laut adalah anugerah terbesar bagi warga pulau dan Sumenep pada umumnya,”kata Arbaena (60), warga pesisir Desa Sukajeruk Kecamatan Masalembu, pada Media Center.

Memang benar, hampir 40 persen atau 400.000 lebih penduduk di Kabupaten Sumenep berdomisili sekaligus menggantungkan hidupnya di kawasan pesisir dan laut. Namun sayang, seperti yang diungkap Arbaena, saat ini banyak ekosistem pesisir dan laut yang rusak akibat ulah tangan manusia. “Dulu misalnya, saat saya masih remaja, mencari ikan tidak sulit. Karena saat itu terumbu karang masih belum mendapat sentuhan tangan jahil manusia. Tapi sekarang sebaliknya,”kenang ibu satu anak ini.

Kekayaan alam juga saat ini justru dinikmati oleh orang-orang di luar daerahnya. Bayangkan, dari hasil telusuran Media Center, ternyata masih banyak warga lokal Masalembu yang belum tahu rasa ikan tangire (tengiri; red), salah satu jenis ikan termahal di sana. Usut punya usut, ternyata ikan itu tak sampai ke daratan, melainkan langsung dijual di tengah laut.

“Harganya mahal. Satu kilonya sekitar Rp. 25.000,00. Satu ekornya bisa sampai 5 kilogram lebih. Jadi masyarakat nelayan lebih suka dijual daripada dikonsumsi sendiri,”jelas Mak Ina, panggilan akrab Arbaena.

Terpisah, menurut warga Maselembu lainnya, Awek (45 tahun), berbagai potensi ekonomi lengkap dengan sumber devisa daerah di kawasan laut Sumenep, seperti di tempat tinggalnya yang hingga kini masih belum dimanfaatkan secara optimal. Bahkan ironisnya, menurut Awek, meski dekat dengan berbagai anugerah tersebut, tingkat pendapatan penduduk sekitarnya masih tergolong rendah.

Menurut pria asal Dusun Penggir, Desa Masalima ini, potensi ekonomi pesisir, terutama di tempatnya, sebenarnya sangatlah besar. Namun, potensi itu diharapnya seimbang dengan sentuhan tangan dingin terutama pemerintah. “Ya artinya kepada pemerintah hendaknya program pembangunan lebih memprioritaskan pembangunan pesisir, sehingga kehidupan pesisir lebih tertata dan lebih bermanfaat bagi keberlangsungan hidup masyarakat itu sendiri,”harapnya.

Saat ini diakui Awek, dari kacamata awamnya, grafik pertumbuhan ekonomi masyarakat pesisir tidak beranjak naik. Padahal mereka dalam kapasitas tuan rumah. “Tapi mengapa malah taraf ekonomi mereka masih rendah,”tanyanya. ( Farhan, Esha )