News Room, Senin ( 16/03 ) Demi meringankan masyarakat kurang mampu dalam melaksanakan Sunnah Rasul, yakni khitan, LSM Fikkri Sumenep terus melakukan kegiatan sosial berupa khitanan massal keberbagai pelosok Desa di Kabupaten Sumenep. Bahkan, yang dilakukan Minggu (15/03) kemarin di salah satu Pondok Pesantren di Desa Nyapar Kecamatan Dasuk mencapai 115 anak yang juga datang dari luar Desa Nyapar. Ketua LSM FIKKRI Sumenep, KH. Khairul Amin, SH mengaku melakukan khitanan massal dibeberapa pelosok tersebut, tidak hanya dilakukan saat-saat ada kepentingan politik saat ini, namun murni panggilan jiwa dari para pengurus LSM FIKKRI mulai dari pusat hingga daerah. “Ini murni kita lakukan, siapapun yang ingin bekerjasama dengan kami, selama benar-benar dilakukan data yang benar dan sudah dilakukan survei oleh relawan kita, itu akan dipertimbangkan untuk dibantu,â€Âujar KH. Khairul Amin. Bahkan dalam waktu dekat pihaknya juga bekerjasama dengan Mahasiswa akan menggelar kegiatan khitanan massal dan pengobatan gratis di Kecamatan Talango. Hal itu membuktikan, LSM FIKKRI tidak pernah punya kepentingan dibalik kegiatan sosial yang dilaksanakan selama ini. Siapapun yang mengajak kerjasama, baik instansi pemerintah, swasta, lembaga sosial dan lembaga lainnya. Memang diakui, selama ini masih diseputar beberapa Kecamatan saja, seperti Kecamatan Kota Sumenep, Kalianget, Bluto, Manding Batang-batang, Batuhputih, Dasuk, Ruberu dan beberapa Kecamatan lainnya di Sumenep. Karena itu, pihaknya berharap semua organisasi sosial dapat melirik apa yang menjadi kebutuhan vital di masyarakat. Ketika melakukan kegiatan sosial, masyarakat sangat respon. Sebab, untuk biaya khitan dengan menggunakan laser jika perorangan bisa mahal, sehingga anak-anak terkadang memang menunggu adanya khitanan massal, baik yang dilaksanakan pemerintah maupun lembaga-lembaga sosial dan perusahaan, seperti perbankan dan sebagainya. Sementara itu salah seorang tokoh masyarakat Desa Nyapar, Abd. Rahman mengaku sangat berterima kasih dengan kegiatan sosial dari LSM Fikkri. Sebab masyarakat, khususnya yang kurang mampu di Desanya merasa terbantu dan diperhatikan. Terbukti respon masyarakat yang mendaftar cukup banyak. Pihaknya berharap, nantinya akan ada lembaga lain yang mengikuti program sosial, seperti yang dilaksanakan LSM Fikkri ini. Kalau perlu, juga dilakukan berupa pengobatan gratis kepada masyarakat. Namun, tetap bekerjasama dengan unsur kesehatan. Hal itu penting agar masyarakat yang akan berobat tidak ragu dan dapat dipertanggung jawabkan dari pelaksanaan pengobatannya. ( Ren, Esha )