Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 01-09-2015
  • 1268 Kali

KH. Barizi Asnawi : Ikhlash Merupakan Kunci Kehidupan

News Room, Rabu ( 02/09 ) Bagi KH. Barizi Asnawi, Daramista Lenteng, membesarkan nama lembaga lebih dari membesarkan nama perintisnya, sehingga dalam dinamika aktivitasnya selama lebih 30 tahun mengurus beberapa lembaga keagamaan, tidak satupun yang lantas membesarkan nama putra salah satu ulama kharismatik Sumenep, KH. Asnawi Imam, Jambu Lenteng ini.

"Tahun 1971 hingga sekitar 1978, saya merintis Lembaga Pesantren di Dempo, Waru Pamekasan. Setelah itu saya tinggal dan kembali ke Jambu. Hingga kini lembaga tersebut sudah berkembang pesat,"kata ayah 4 anak ini pada News Room.

Dari Dempo Kiai Barizi membantu ayahnya mengurus pesantren di Jambu. Dan sekitar tahun 1983, beliau hijrah ke Jalak, sebuah kampung di Desa Daramista. Di Jalak, Kiai Barizi mengajar Al-Quran dan kajian kitab klasik. Rutinitas tersebut beliau jalani selama belasan tahun.

Akhirnya, untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, beliau kemudian mendirikan sebuah lembaga Madrasah Diniyah pada tahun 2001, yang diberi nama Madrasah Diniyah Al-Asnawi. "Dulu yang meresmikan Bupati Sumenep waktu itu, KH. Moh. Ramdlan Siraj, SE, MM" kata Kiai Barizi.

Saat ini Madrasah Diniyah yang dirintisnya masih berjalan. Namun, karena Kiai Barizi sendiri yang mengurusnya, beliau sepertinya kurang begitu ambisius untuk membesarkan lembaga tersebut. Putra laki-lakinya Kiai Zarnuji menetap di Jambu dan diminta membantu pamannya Kiai Taufiqurrahman mengurus Pondok Pesantren Mathlabul Ulum. Sementara putra beliau yang lain, Kiai Abu Sofwan saat ini ada di Bluto, diambil menantu oleh Kiai Haji Abdul Bar Khalid. Ketika ditanya kenapa beliau tidak fokus pada salah satu lembaga rintisannya dulu, beliau menjawab singkat.

"Ya, biar tidak hanya satu tempat yang berkembang. Ketika kita pindah, dan merintis yang lain, maka diharapkan bisa terus berkembang ke tempat-tempat lain. Jadi ini yang namanya barakah,"tambahnya sambil tertawa.

Kuncinya menurut Kiai Barizi, seseorang yang bergerak di jalan Allah itu harus ikhlash. "Jadi, saya banyak belajar dari kebiasaan ulama-ulama salaf. Mereka merintis sesuatu yang berguna untuk umum, bukan untuk pribadinya atau ketenaran. Dan hasilnya, bisa kita lihat peninggalan-peninggalan kiai sekaligus ulama pendahulu kita, banyak yang berkah,"tutupnya sambil tersenyum. ( Farhan, Esha )