News Room, Selasa ( 02/06 ) Masih banyaknya masyarakat memadang perempuan sebagai kaum yang lemah, tertutama dalam aktifitas kehidupan sehari-hari, mengundang keprihatinan Isnaniyah, S.Hi salah seorang pengajar di Lembaga Pendidikan Aqidah Usmuni Terate. “Perlu dilakukan langkah-langkah bijak, agar pola pikir masyarkat seperti itu, tidak cenderung tumbuh dan terpatri di tengah-tengah masyarakat,â€Âtegasnya. Menurut Isnaniyah, anggapan tersebut terbukti ketika dalam Pemilihan Legislatif lalu, keterpilihan perempuan masih sangat rendah, meskipun ada kuota bagi caleg perempuan di setiap partai, namun ternyata respon masyarakat pemilih masih lemah. “Perempuan masih dianggap belum layak berkiprah dalam mengisi pembangunan, terutama di Kabupaten Sumenep yang mana caleg perempuan yang terpilih menjadi anggota dewan hanya 10 persen saja,â€Âujar Isnaniyah. Menurut Isnaniyah, kaum perempuan harus terus berusaha, agar anggapan miring dan tindakan diskriminasi terhadap perempuan tidak terus tumbuh ditengan masyarakat, dengan menunjukkan prestasi dan kemampuannya ditengah masyarakat. Sebagai pendidik, Isnaniyah mencoba untuk memberikan pemahaman sejak dini kepada anak didiknya, yang salah satunya dengan pemutaran film bejudul “Perempuan Berkalung Sorban.†Yang yang kisahnya hampir sama dengan cerita Siti Nurbaya. Diharapkan, melalui pemutaran film tersebut, sejak dini mereka bisa mengerti tentang hakekat perjuangan seorang perempuan untuk mencari jadi dirinya dan berguna bagi kehidupan di masyarakat. ( Ren, Gun )