News Room, Sabtu ( 22/06 ) Menjelang penetapan kenaikan harga BBM oleh pemerintah pusat, sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kabupaten Sumenep, pada Jumat (22/06) malam, dipenuhi warga. Antrian panjang pun tak terelakkan. Bahkan, SPBU di Jalan Trunojoyo, Desa Kolor, Kecamatan Kota setempat, terlihat antrian sampai meluber keluar lokasi hampir mencapai 100 meter. Salah seorang pembeli BBM, Sulastri mengaku ikut antre, karena mendengar kabar jika harga BBM akan naik pada Jum’at (21/06) malam ini, pukul 00.00 Wib. Namun, pihaknya tidak setuju atas kenaikan harga BBM tersebut. “Ya saya terpaksa ikut antre, kan harganya mau naik 2 jam lagi. Sebenarnya, saya tidak setuju harga BBM naik, kasihan masyarakat yang gak mampu, apalagi kenaikannya sampai Rp. 2.500,”terangnya. Menyikapi penetapan kenaikan harga BBM, yakni premium dari Rp. 4.500,00 menjadi Rp. 6.500,00 per-liter dan solar Rp. 4.500,00 menjadi Rp. 5.500,00 per-liter, MH Said Abdullah, anggota DPR-RI dari Dapil XI Madura mengatakan, bahwa kenaikan harga BBM itu bukan untuk mensejahterakan masyarakat, melainkan hanya diperuntukkan menyelamatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2013. “Sejak awal PDI Perjuangan yakin betul APBN-P adalah akal-akalan pemerintah. Karena argumen awal soal fiskal APBN-P ada problem, penerimaan pajak berkurang hingga Rp. 38 trilyun, dan terjadi devisit 2,8 dinilai hanyalah permainan pemerintah,”tegas Said, saat di Sumenep, Sabtu (22/06). Menurutnya, keputusan pemerintah ini tidak tepat. Itu dibuktikan dengan munculnya program bantuan bagi masyarakat miskin berupa Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) dan penambahan program raskin dari Rp. 1.600 trilyun menjadi Rp. 1.726 trillun. “Ini kan sangat lucu. Disatu sisi keuangan negara terancam, sehingga harga BBM harus dinaikkan. Tapi kenapa justru pemerintah menambah anggaran untuk bantuan. Mestinya, perencanaan diperbaiki yang disertai penambahan program bantuan bagi masyarakat miskin tanpa menaikkan harga BBM. Sebab, kami yakin anggaran yang ada masih cukup memenuhi kebutuhan BBM di Indonesia,”ungkapnya. ( Nita, Esha )