News Room, Kamis ( 12/05 ) Kementerian Pariwisata melalui Deputi Pengembangan Kelembagaan Pariwisata, Kamis (12/05), melakukan Focus Group Discussion (FGD) bersama pelaku pembuat kapal, budayawan dan instansi terkait di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur.
Koordinator Peneliti Deputi Pengembangan Kelembagaan Pariwisata, Kementerian Pariwisata, Ni Komang Ayu Astiti, menjelaskan, survey awal yang dilakukannya menghasilkan kesimpulan, bahwa Sumenep berpotensi mendukung budaya maritim dan pengembangan kapal-kapal tradisional.
"Itu dibuktikan dengan masih ada generasi pelaku pembuat kapal tradisional, yang ditunjang dengan kebudayaan bersama wisata bahari di Kabupaten Sumenep,"kata Ni Komang Ayu Astiti, di Sumenep, Kamis (12/05).
Menurutnya, sejak jaman kerajaan hingga saat ini, Sumenep terkenal dengen kehebatan dalam pembuatan kapal, sehingga tidak terlalu sulit melakukan pengembangan idustri kapal-kapal tradisional dengan ukuran dan daya tampung besar.
"Dengan adanya pengembangan kapal tradisional ini, nantinya diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap pemerintah daerah, perekonomian masyarakat dan pelestarian sosial budaya terkait kebudayaan kemaritiman,"tuturnya.
Ia juga menambahkan, pada penelitian awal pihaknya terfokus pada eksistensi budaya maritim di Sumenep ini apakah masih ada dan bisa mendukung wisata maritim dengan memakai kapal tradisional.
"Letak geografis Sumenep yang memiliki 126 pulau itu, sangat mendukung budaya maritim melalui pengembangan kapal-kapal tradisional,"tuturnya.
Sementara, Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Sumenep, Sufianto, SE, M.Si menyambut baik program kementerian pariwisata untuk melestarikan budaya maritim yang dimulai dari pembuatan perahu.
"Program ini sangat membantu Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep dalam mengembangkan budaya maritim di wilayah setempat,"tukasnya.
Sufianto berharap hasil penelitian itu, nantinya Kementerian Pariwisata memberikan rekomendasikan kepada Disbudparpora di Sumenep, agar bisa melakukan standarisasi dan pemilihan bahan-bahan pembuatan kapal tradisional.
"Kami berharap kehadiran kapal-kapal tradisional tersebut, nantinya mampu menghidupkan destinasi wisata dan budaya di Kabupaten paling ujung di Pulau Madura ini,"ungkapnya. ( Nita, Esha )