News Room, Kamis ( 02/07 ) Saat ini Madrasah Tsanawiyah (MTs) Negeri Tarate Pandian Sumenep telah berusia kurang lebih 47 tahun. Selama lebih dari masa 4 dasawarsa tersebut, MTs Negeri Terate telah banyak mengalami perubahan. Secara garis besarnya, perubahan tersebut bisa dilihat dari perkembangan dan kemajuan madrasah, baik secara fisik infrastrukturnya maupun aktivitas kegiatannya.
Meski begitu, bukan berarti saat ini Madrasah Tsanawiyah Tarate tidak memiliki kendala sama sekali dalam perkembangannya. Namun, permasalahan itu saat ini sudah mulai sedikit demi sedikit dikikis, seperti masalah kemasan, kualitas tenaga pengajar, maupun kuantitas murid.
“MTs Negeri Tarate juga sangat bergantung pada kualitas guru. Jadi, mengenai itu kita terus tingkatkan, baik dari kualifikasi akademik atau sumber daya manusianya. Peningkatan kualitas tenaga pengajar juga ditunjang dengan pelatihan dan pendidikan menambah wawasan berpikir dan motivasi tersendiri dalam proses belajar mengajar,”kata Kepala MTs Negeri Tarate, H Haeruddin.
Masalah kemasan juga terus dilakukan modifikasi. Sarana dan prasarana di MTs Negeri Terate bisa dikatakan sudah terpenuhi secara kualitas dan kuantitas. Baik untuk sarana pembelajaran kurikuler maupun ekstrakurikuler.
Sesuai dengan sertifikat tanah, luas tanah seluruhnya sekitar 5.000 M². Kondisi diatas mempengaruhi terhadap input peserta didik yang hampir 50 persen adalah santri dan santriwati.
Selain itu, hampir 75 persen mata pencarian wali murid adalah petani dan wiraswasta. Madrasah ini mulai mengenal Adiwiyata sejak tahun 2010 lalu.
Tidak hanya itu, keaneka ragaman hayati berupa pohon, baik ditaman, koridor, Ruang Terbuka Hijau maupun di green house begitu banyak jumlahnya. Namun, di Madrasah sedang membudi dayakan bunga anggrek yang jumlahnya hampir mencapai 500 pohon.
Pohon ke dua yang sedang digalakkan di madrasah kami adalah pembibitan vegetatif dan generatif cemara udang. Yang jumlahnya mencapai 50 pohon.
Di taman banyak didominasi oleh bunga pucuk merah dan palm yang setiap harinya di asuh dan dirawat oleh peserta didik. Di green house tanaman terdiri dari berbagai jenis. Terdapat 24 jenis pohon yang berumur mulai dari 1 bulan hingga 6 bulan.
Seperti pohon atau tanaman andong, krokot, puring, kaktus, mawar jambe, alpukat, lidah buaya, beras tumpah, sri rejeki, keladi, kamboja, pohon zig zag dan lain sebagainya.
“Jadi, kita ingin menampilkan wajah madrasah selalu menarik. Sehingga bisa membuat orang menjadi tertarik dan betah. Saya juga sering mengatakan pada para guru maupun karyawan bahwa lokasi sekolah yang agak masuk ke dalam dan luas tanah yang sudah tidak bisa ditambah bukan lagi masalah. Semua itu pasti ada jalan keluar. Yang penting kuncinya harus optimis,”tutup pria yang sebelumnya guru di MTs Negeri Sumenep ini. ( Farhan, Esha )