News Room, Jumat ( 03/05 ) Hasil penelitian yang dilakukan Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) di Surabaya, pada Kamis (02/05) kemarin, terhadap kadar oksigen di Pulau Giliyang, Kecamatan Dungkek, Kabupatan Sumenep, menunjukkan diatas rata-rata. Peneliti BBTKLPP Surabaya yang beranggotakan 9 orang menemukan kadar oxygen di pulau tersebut tepatnya pukul 11.00, menunjukkan angka yang sangat signifikan, yakni 20,9 persen untuk kadar oksigen lebih tinggi dari baku normal. Sedangkan kandungan karbondiogsida (CO2) mencapai 30,2 persen lebih rendah dari baku normal 38,7 persen. Pengukuran kedua dilakukan tepat pukul 11.45, saat kondisi udara sangat bagus kadar oksigen mencapai 21,5 persen, sementara kadar CO2-nya menurun menjadi 26,5 persen. Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kabupaten Sumenep, Drs. Bambang Iriyanto, M.Si menjelaskan, hasil survey dari BBTKLPP Surabaya terhadap kandungan oksigen di Pulau Giliyang itu sama dengan hasil penelitian sebelumnya. “Pada tahun 2006 lalu, peneliti dari Pusat Pemanfaatan Saint (LAPAN), juga mencatat kandungan oksigen di Pulau Giliyang mencapai 21 persen. Angka itu menunjukkan kandungan oksigen yang luar biasa alias di atas rata-rata baku normal sebuah daerah yang tidak terkontaminasi adanya pencemaran. Jadi, hasil penelitian BBTKLPP tahun ini, juga tidak ada perubahan,”katanya. Bambang mengungkapkan, jika mengacu pada hasil penelitian itu, memang tidak diragukan lagi Pulau Giliyang dijadikan wisata kesehatan, dengan kandungan oksigen diatas rata-rata. “Saat ini kami sedang merapatkan barisan, melakukan sinkronisasi dengan tim yang pernah datang ke Pulau Giliyang, baik BBTKLPP, Badan Pengembangan Wilayah Suramadu (BPWS) maupun tim lainnya, guna mengemas Pulau Giliyang menjadi lokasi Wisata Kesehatan,”terangnya. Menurutnya, banyak hal yang harus dilakukan menuju wisata kesehatan, sebab diperlukan adanya perubahan dan pengembangan. Namun, kebutuhan utama adalah ketersediaan transportasi yang layak dan infrastruktur. “Bupati Sumenep, KH. A. Busyro Karim, M.Si memang ingin dalam pengembangan Pulau Giliyang menjadi objek Wisata Kesehatan, masyarakat setempat harus dilibatkan dan wajib menjadi tuan rumah,”ujarnya. Konsep yang ditawarkan Pemerintah Kabupaten Sumenep, lanjut Bambang, tidak terlalu berlebihan, namun bisa meningkatkan perekonomian masyarakat Pulau Giliyang. “Dalam pengembangannya nanti, kami memang melarang adanya hotel di Pulau Giliyang. Cukup home stay saja, yang disedikan oleh warga setempat. Sekalipun investor akan masuk, tetap harus mengikuti aturan dari Pemkab Sumenep,”tegasnya. Yang pasti, Pulau Giliyang memang layak dijadikan objek Wisata Kesehatan. Bahkan, BPWS berencana mengembangkan Pulau Giliyang dengan terlebih dahulu membangun dermaga, kemudian pelebaran jalan by pass 21 meter. Rencana menjadikan Pulau Giliyang menjadi lokasi wisata kesehatan mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Propinsi Jawa Timur. Gubernur Jawa Timur, Dr. H. Soekarwo memastikan ada “progress” pembangunan untuk Pulau Giliyang. Bahkan DPRD Jawa Timur dalam Perubahan Anggaran Keuangan (PAK) 2013 menganggarkan pembangunan dermaga di Kecamatan Dungkek yang akan menghubungkan dengan Pulau Giliyang. ( Nita, Esha )