Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 17-09-2015
  • 2191 Kali

Jejak Pemerintahan Sumenep, Selalu Jadi Buah Bibir

News Room, Jumat ( 18/09 ) Sejak zaman dulu, Sumenep sudah menjadi buah bibir. Cikal bakal nusantara juga memiliki benang merah yang tak terpisahkan dengan Kabupaten paling timur di Nusa Madura ini. Hal itu ditandai dengan berdirinya kerajaan terbesar di negeri ini, Majapahit.

Sejarah mengakui, bahwa berkat kepiawaian politik Aria Wiraraja selaku Adipati pertama di Sumenep, putra Dyah Lembu Taal, Sangghramawijaya atau Raden Wijaya mampu membangun sebuah pemerintahan monarki terbesar sepanjang sejarah Nusantara.

“Dalam perkembangan lebih lanjut, Sumenep juga merupakan sebuah kekuatan politik yang diperhitungkan, pun di era kolonial,”kata RB. Moh. Muhlis, salah seorang pemerhati sejarah di Sumenep, pada News Room.

Posisi Madura yang waktu itu sempat menjadi negeri vazal Mataram sekaligus VOC hanya bertahan beberapa lama. Setelah itu berdiri dalam tingkat lebih tinggi menjadi Daerah Wadhono di Bangwetan (meliputi lebih separuh Madura bagian barat dan Jawa bagian timur mulai Madiun hingga Blambangan), dengan Bupati Wadhono waktu itu Panembahan Cakraadiningrat V (Sidho Mukti) dari Bangkalan.

Dalam bahasa Belandanya, Bupati Wadhono disebut Hoofd-Regent. Sebuah jabatan yang waktu itu hanya ada di beberapa di daerah khusus, semisal di Semarang (pusat pemerintahan VOC disamping Batavia), dengan Hoofd-Regentnya (Bupati Wadhono) ialah Kangjeng Kiyai Adipati Suroadimenggolo V (wafat dan dikuburkan di Sumenep, tahun 1821 Masehi. Setelah sebelumnya ditawan VOC di atas kapal perang Pollux bersama keluarganya karena bersekutu dengan Pangeran Diponegoro).

“Kendati demikian, kala itu Sumenep tidak berada di bawah Bangkalan, namun berkuasa tersendiri (zelfstandig). Bahkan di zaman Panembahan Natakusuma I (Panembahan Sumolo, yang salah satu isteri beliau merupakan putri dari Cakraadiningrat V), daerah Bangwetan bagian timur dikuasai Sumenep,”tambah Muhlis.

Tak hanya itu, menurut putra almarhum RP. Moh. Danafiah, pensiuan Kepala Gudang PN. Garam ini, keluarga dari trah Natakusuma I terus memainkan peranan penting di daerah tapal kuda (meliputi Probolinggo, Besuki, Panarukan—sebelum berganti Situbondo, Bondowoso, hingga Blambangan atau Banyuwangi) dengan menduduki kursi adipati.

Dan babak pertama suksesi oleh keluarga Sumenep ini dimulai oleh pengangkatan Raden Bambang Sutiknya alias Pangeran Adipati Ario Prawiroadiningrat I (cucu Panembahan Sumolo dari pihak ayahnya, sekaligus juga cucu saudagar Cina muslim di Besuki—Han Soe Ki—dari pihak ibunya) sebagai adipati pertama Besuki.

“Namun sebelum itu, daerah tapal kuda tersebut oleh Panembahan Sumolo telah ditukar dengan gugusan pulau yang hingga saat ini menjadi bagian dari Kabupaten Sumenep,”jelasnya.

Babak kedua dari kisah suksesi ini berlanjut dengan dilantiknya salah satu putra Pangeran Sutiknya yang bernama Kangjeng Raden Tumenggung Ario Pandu Suryoatmojo (Kangjeng Pandu) sebagai bupati pertama Panarukan (setelah itu pemerintahannya pindah ke Situbondo). Tanpa harus ditebak, babak-babak lainnya tentu saja terus bersusulan dari trah ini.

Kembali ke Sumenep, posisi tersebut (sebagai penguasa zelfstandig), menurut Muhlis terus berlanjut hingga masa pemerintahan Sultan Pakunataningrat (Abdurrahman) dan putranya Panembahan Muhammad Shaleh (Natakusuma II).

Bahkan di masa itu (bersamaan dengan masa Sultan Cakraadiningrat II di Bangkalan—Abdul Qadirun, dan Panembahan Mangkuadiningrat di Pamekasan, keduanya cucu Cakraadiningrat V), penguasa Sumenep, Pamekasan, dan Bangkalan oleh Belanda tidak dianggap sebagai pembesar yang memerintah sendiri (zelfbestuurders biasa) maupun pembesar di bawah kendali Belanda (vazal biasa).

“Melainkan sebagai onafhankelijke bondgenoten (teman pemerintah Belanda yang tidak bergantung pada pemerintah Belanda itu sendiri),”pungkasnya. ( Farhan, Esha )