News Room, Selasa ( 13/05 ) Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan RI menganjurkan jangan ada paket kunjungan ke peternakan unta dalam perjalanan Jamaah Umrah. "Sebaiknya warga kita yang bepergian ke Jazirah Arab untuk tidak kontak langsung dengan unta. Selain itu, berdasarkan anjuran WHO untuk tidak mengkonsumsi susu mentah dan selalu memasak makanan dengan baik,"kata Kepala Balitbangkes Kemkes RI, Tjandra Yoga Aditama, di Jakarta, Senin (12/05). Anjuran ini disampaikannya terkait beberapa penelitian yang menyebutkan, bahwa unta dicurigai sebagai sumber penularan MERS-CoV. Kementerian Kesehatan Arab Saudi pernah mengumumkan bahwa MERS-CoV telah dideteksi pada seekor unta yang terkait dengan kasus seorang penderita MERS-CoV di Arab Saudi. Temuan ini sejalan dengan laporan sebelumnya, tentang adanya antibody reaktif MERS-CoV pada unta. Data yang dikeluarkan WHO pada 27 Maret 2014 menunjukkan penelitian pada hewan di Mesir, dimana dengan pemeriksaan RT-PCR dideteksi adanya MERS-CoV pada 3.6 persen (4 dari 110) unta berpunuk sehat yang ada di rumah pemotongan hewan (RPH). Penelitian itu juga menguji serum yang dikumpulkan dari 52 unta dan 179 petugas RPH, antibody reaktif MERS-CoV ditemukan pada 92 persen sampel unta, tetapi tidak ditemukan pada semua sampel manusia. Seluruh unta yang diuji serumnya positif adalah unta impor dari Sudan dan Etiopia. Sementara itu, penelitian diagnostik molekuler lainnya dari Arab Saudi menemukan adanya infeksi MERS-CoV pada sejumlah unta diberbagai wilayah negara itu, tapi ini hanya penelitian pada unta saja. Di pihak lain, menurutnya ada penelitian yang dipublikasi di jurnal Emerging Infectious Diseases yang menemukan dugaan adanya hubungan erat antara virus yang didapat dari manusia dan unta. "Data-data diatas mendukung adanya kecurigaan, bahwa unta merupakan sumber penularan dari MERS-COV. Namun masih dibutuhkan penelitian lebih mendalam untuk memastikan hal ini, termasuk penelitian untuk mengetahui jalur penularan, investigasi terhadap pajanan dari binatang atau lingkungan serta rantai transmisinya,"ungkap Tjandra. ( InfoPublik, Esha )