Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 27-09-2008
  • 722 Kali

Idul Fitri, NU Tunggu Rukyat, Muhamadiyah Pastikan 1 Oktober

News Room, Sabtu ( 27/09 ) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur belum dapat memastikan jatuhnya Hari Raya Idul Fitri 1429 Hijriyah. Mereka masih menunggu hasil rukyat (melihat bulan dengan mata telanjang, red) yang akan digelar 29 September 2008 nanti. Rois Syuriah PWNU Jatim, KH. Miftachul Akhyar, Jum’at (26/09) kemarin mengatakan, ada 13 titik yang digunakan menjadi lokasi rukyat di Jawa Timur. Di antaranya di Slotreng-Jember, Tanjung Kodok-Lamongan, Malang, dan Bangkalan. Hasil rukyat tersebut nantinya dibawa ke sidang isbat yang digelar di Kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Jakarta. Dalam rapat tersebut semua hasil rukyat dari seluruh Indonesia dibahas para ahli rukyat PBNU. Setelah itu jatuhnya Hari Raya Idul Fitri baru bisa dipastikan. Menurut Miftach, satu saja hasil rukyat yang digelar pada 29 September itu menunjukkan adanya penampakan bulan, maka sidang isbat akan memutuskan hari raya pada tanggal 30 September. Artinya, sidang ini sudah bisa dijadikan rujukan dalam mengambil dasar hukum penentuan hari raya. Sebaliknya jika dalam rukyat yang dilakukan pada 29 September belum berhasil melihat bulan, maka NU akan menggunakan metode istikmal, yakni menyempurnakan puasa selama 30 hari penuh. "Artinya kita Lebaran pada tanggal 1 Oktober, sama dengan pemerintah," katanya. Ketua Pengurus Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, Syafiq Mughni Timur memastikan Hari Raya Idul Fitri jatuh pada Rabu, tanggal 1 Oktober 2008. Hal tersebut didasarkan karena ijtimak (kesepakatan, red) akhir Ramadan terjadi pada 29 September. Ini diputuskan berdasar metode hisab (perhitungan tanggal secara astronomi/falaqiyah, red). Dalam perhitungan itu, kata Syafiq, saat matahari terbenam pada 29 September, hilal masih dibawah ufuk (-0 derajat, 59 menit, 22 detik), karena masih belum sempurnanya puasa kemudian digenapkan menjadi 30 hari. Dikatakannya, penghitungan dengan metode hisab ini, juga dengan menggunakan kalender bulan, (Hijriyah). "Jadi tidak perlu melihat dengan perhitungan kepala, namun cukup dengan perhitungan astronomi," ujar Syafiq. ( JNR, Esha )