Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 08-07-2010
  • 670 Kali

Harga Komoditi Hasil Pertanian Di Suemenep, Sulit Diprediksi

News Room, Kamis ( 08/07 ) Menghadapi cuaca yang belum stabil saat ini, hendaknya para petani terus mencari peluang usaha pertaniannya, sehingga masing-masing mampu meningkatkan penghasilannya ketika pangsa pasar untuk produksi pertanian yang dihasilkan sesuai dengan usaha yang dilakukan. Sebab, hukum ekonomi, ketika barang banyak biasanya harganya murah, sebaliknya jika barang sedikit harganya akan naik. Karena itu beberapa potensi pertanian yang ada di Sumenep perlu adanya keseimbangan antara kebutuhan hasil pertanian yang diharapkan oleh distributor maupun konsumen. Meskipun selama ini beberapa harga komoditi hasil pertanian yang ada di Sumenep selalu tidak bisa diprediksi. Hal tersebut diungkapkan Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Sumenep, Syamsul Ma’arif kepada sejumlah wartawan tadi siang, Kamis (08/07). Pengusaha yang juga anggota Komisi D DPRD Sumenep ini mencontohkan harga cabe tiba-tiba harganya tinggi, namun karang-kadang sangat rendah. Bahkan, komoditas tembakau yang selama ini menjadi idola petani di Sumenep ternyata sulit untuk diprediksi, karena tidak ada ketetapan harga yang pasti, meskipun dalam segi kwalitas sama. “Coba lihat, harga yang diberikan pabrikan hari ini misalnya kwalitas bagus Rp. 30.000,00 per-kilogram, beberapa hari kemudian harga langsung jatuh menjadi Rp. 20.000,00, bahkan Rp. 10.000,00 dan terus menjadi tidak berharga,”ujar Syamsul. Jadi, pasar ekonomi di Sumenep memang sulit untuk diprediksi. Karena itu, pihaknya berharap kepada Pemerintah juga dapat menfasilitasi persoalan tersebut dengan melakukan upaya pendekatan kepada perusahaan, agar memiliki standar harga yang pasti dan tidak mudah mempermainkan harga seenaknya tanpa mempedulikan nasib para petani. Serta mencarikan peluang-peluang baru yang bisa lebih memberdayakan para petani dengan produksi pertanian yang bisa menjadi budidaya dan menghasilkan keuntungan bagus bagi petani. Disamping itu tegasnya lagi, para petani sendiri bisa membagi lahan pertaniannya untuk melaksanakan penanaman dari berbagai jenis tanaman yang memiliki pangsa pasar cukup bagus. Dan selalu menjadi kebutuhan konsumen maupun perusahaan tertentu, sehingga bisa secara berkesinambungan untuk dibudidayakan dan mengandung nilai ekonomi yang kompetitif. ( Ren, Esha )