Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 21-03-2014
  • 586 Kali

Harga BBM Mahal, Ratusan Warga Masalembu Duduki Kantor Camat

News Room, Jumat ( 21/03 ) Tingginya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di Kepulauan Masalembu, Kabupaten Sumenep, yang mencapai Rp. 15.000,00 per-liter, membuat 500 warga setempat, Jumat (21/03) siang berunjuk rasa ke kantor Kecamatan Masalembu. Mereka menuntut agar Forum Pimpinan Kecamatan (Forpimka), menindak tegas agen maupun sub agen nakal, yang menjual BBM dengan harga mencekik. Dalam aksinya, warga memilih menduduki kantor Kecamatan, menunggu tuntutan mereka dipenuhi. Namun, Camat Masalembu sedang tidak berada di tempat. Massa hanya ditemui staff Kecamatan, bersama Kapolsek Masalembu, Ipda Marjito, serta Danramil Masalembu, juga terlihat ikut menemui pengunjuk rasa. Situasi sempat memanas, ketika pengunjuk rasa meminta Forpimka menanda tangani kesepakatan bersama yang berisi kesanggupan untuk melakukan razia terhadap sub agen nakal. Kapolsek Masalembu sempat menolak menanda tangani kesepakatan itu, dengan dalih belum ada ijin dari Kapolres Sumenep. Massa pun emosi dan terus mendesak, agar Kapolsek dan unsur Forpimka lainnya ikut menandatangani kesepakatan tersebut. Tanpa diduga, warga memilih menyandera Darul Hasyim Fath, anggota DPRD Sumenep yang tengah berada di Masalembu. Massa meminta agar Darul sebagai wakil rakyat, berada dipihak rakyat dan mendukung tuntutan rakyat tentang BBM tersebut. Ia mengaku sangat memahami kemarahan warga Masalembu terkait mahal dan langkanya BBM selama berminggu-minggu. “Keberadaan APMS di Masalembu dianggap tidak membantu, tapi justru menyulitkan masyarakat,”pungkasnya. Sementara, Korlap Aksi, Ahmad Soleh mengatakan, BBM di Masalembu tidak hanya harganya yang melambung, namun stok di pasaran juga menghilang. Di eceran kosong, di APMS (Agen Premium Minyak dan Solar) juga sering kosong. Kondisi tersebut sudah terjadi lebih dari 2 minggu. "Harga BBM di Masalembu sekarang ini mencapai Rp. 15.000,00 per-liter. Paling murah Rp. 10.000,00 per-liter. Itu sangat memberatkan rakyat. Padahal kemarin sudah ada kesepakatan di hadapan Forpimka, harga eceran BBM tidak lebih dari Rp. 8.000,00 per-liter,"katanya. Ia menduga ada permainan antara APMS dan Sub Agen. Selama ini, APMS ditengarai lebih banyak menjual pada sub agen. Sedangkan sub agen diduga sengaja menimbun untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya. "Mereka kemudian menjual dengan harga tinggi pada masyarakat. Kami, warga pulau yang menjadi korban,"teriaknya. ( Nita, Esha )